Nasionalisme yang semakin bangkit
Setiap kali ada orang lokal yang berhasil menembus dunia internasional, hati saya ikut menghangat. Saat mendapat tugas bicara untuk kalangan milenial, saya menyempatkan diri membeli celana jeans putih dan kaos bersama seorang penyanyi.
“Mengapa kita segan memakai kaos ‘I love Indonesia’ dan malah bangga memakai t-shirt ‘I Love Singapore’, ‘I Love New York’, ‘I Love Sydney’, dan ‘I Love Vancourver’?” Pertanyaan saya kepada Novi membuatnya tersenyum. Dia pun dengan trengginas ikut memilihkan kaos merah dengan tulisan ‘INDONESIA’ yang besar dan timbul di dada.
Jujur, setelah kenyang dengan film superhero besutan DC maupun Marvel, saya ingin pahlawan super Indonesia bisa naik ke permukaan. Paling tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Kepo yang positif
Knowing Every Particural Object—KEPO—bisa negatif bisa positif. Saya rasa keinginan penonton untuk menyaksikan film superhero Indonesia termasuk yang positif.
“Seperti apa sih patriot versi Indonesia?” demikian yang ada di benak penonton. Meskipun ada flaws di sana sini, baik dari segi plot dan terutama pemakaian CGI di film ini, overall masih oke untuk ditonton.
Saya percaya, masukan warganet yang sudah menonton film ini membuat produksi berikutnya semakin hebring dan cling.
Film Indonesia yang semakin membaik dari hari ke hari
Dulu istri saya selalu ogah jika saya ajak nonton film Indonesia. Alasannya, dramatisasinya yang kebablasan, pemain yang baperan, dan plot yang bisa diduga.
Saya sering bergurau dengan teman-teman dengan mengajukan pertanyaan begini, “Apa yang menjadi ciri khas film Indonesia?”
Saat mereka kebingungan, saya tidak menunggu mereka untuk penasaran terlalu jauh, dan menjawab sendiri, “Selalu ada slow motion—khususnya saat doi sedang pacaran—perpisahaan di kereta api dan rumah sakit!”
Jawaban saya ini biasanya membuat mereka mengakak.
Mengapa rumah sakit? Saat menghadapi jalan cerita yang sulit untuk dilanjutkan, lebih baik memakai kecelakaan dan sakit untuk menyelesaikannya. Penyelesaian tuntas? Ya kuburan. Jadi, selain rumah sakit, setting yang sering dipakai adalah pemakaman. Agar menyedot rasa haru penonton, pemain utama biasanya bersimpuh di makam orang yang dikasihi saat hujan turun dengan lebatnya. Lengkap sudah.
Namun kini, walaupun ketiga unsur itu masih ada—gerak lambat, kereta api (kadang diganti bandara) dan rumah sakit (bisa juga kuburan)—penggarapannya lebih subtle dan manis. Memangnya sirup?
Lalu apa yang bisa kita dapatkan dari Gundala?






