Saya jadi teringat sebuah pepatah lama, “Sepandai pandainya tupai melompat, akhirnya ia jatuh juga.” Demikan pula dengan orang yang berpura-pura, satu saat pasti ketahuan juga. Semahir-mahirnya kita menutup-nutupi sesuatu, pada akhirnya akan terbongkar juga. Dan itu akan membuat kita menjadi malu (jika masih tahu arti malu).

Beberapa tahun belakangan, stasiun-stasiun televisi marak menayangkan program reality show. Judulnya ‘reality’, tapi nyatanya semua diatur sedemikian rupa, agar dramatis dan mampu membangkitkan simpati, empati, bahkan mengaduk-aduk emosi penonton.

Salah seorang teman saya yang gemar nonton reality show berhenti menonton tayangan itu setelah tahu bahwa itu sekadar setingan. Katanya, dia pernah melihat satu orang yang sama di dua stasiun televisi berbeda dengan program acara dan peran yang juga berbeda.

3. Hidup berpura-pura berujung kesia-siaan

Beberapa pekan lalu, saya menonton salah satu film Korea besutan sineas Boong Joon-ho berjudul Parasite

Film ini mengisahkan kehidupan keluarga Kim yang terdiri dari ayah dan ibu serta dua anak yang sama-sama pengangguran. Demi memperbaiki kehidupan keluarga, si anak laki-laki memalsukan ijazah agar mendapatkan pekerjaan sebagai guru privat. Saudari kandungnya berpura-pura sebagai guru pengajar seni, sang ayah menjadi sopir, dan ibu menjadi asisten rumah tangga. Semua bekerja di satu keluarga yang sama. Mereka berpura-pura tak saling mengenal satu yang lain.

Awalnya semua berjalan lancar, bos mereka tak mengetahui siapa diri mereka sebenarnya. Mereka bahkan bisa menikmati hidup seperti orang kaya saat majikan mereka pergi berlibur.

Akan tetapi, itu tak bertahan lama. Masalah demi masalah harus mereka hadapi hingga berujung petaka. Anak perempuan mereka meregang nyawa. Sang ibu dan anak lelakinya berurusan dengan hukum dan sang ayah tak diketahui keberadaannya. Apa yang mereka lakukan semuanya menjadi sia-sia.

Kebohongan yang kita ciptakan bisa membuat kita tersandung, bahkan terseret dalam masalah.

Mungkin kita berpikir hidup berpura-pura asalkan untuk kebaikan itu tak mengapa. Benarkah demikian?

Cobalah berpikir lebih jauh. Jika ujung-ujungnya hanyalah sesuatu yang merugikan diri sendiri dan orang-orang terdekat, apakah itu menjadi harga yang sepadan? Semua akan menjadi sia-sia. Tak  ada arti, tak ada untungnya.

Baca Juga: Ketika Hidup Hanya Sekadar Mampir untuk Minum Kopi, Bukankah Sebaiknya Kita Bersiap sebelum Waktunya Tiba untuk Pulang?

Hidup ini singkat, jangan menjalaninya dalam kesia-siaan. Berhenti berpura-pura, berhenti hidup dalam kebohongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here