Syukur pada Tuhan, operasi berhasil dan benar, ayahku tidak bisa melakukan apapun selain menggerakkan tangan kiri dan kaki kirinya dengan terbatas. Jangankan berbicara, makan melalui mulut saja tidak mampu.

Suasana yang biasanya diisi dengan keributan, hari itu berubah menjadi isak tangis seorang istri yang meratapi suaminya tergeletak tidak berdaya di atas ranjang ICU.

Dalam kondisi yang hampir mustahil untuk sembuh itu, ibu tetap memberikan yang terbaik untuk ayah. Segala bentuk pengobatan dilakukan, setiap makanan dan obat yang direkomendasikan dicari walau dengan susah payah.

Bahkan, setiap hari ibu masih setia membuatkan makanan, menggerakkan badannya agar tidak kaku, membersihkan kotorannya, dan tidur diranjang orang sakit bersama ayah dengan meringkuk disampingnya. Sampai hari ini.

Tak terbayang olehku. Kupikir ibu akan memilih untuk tidak operasi, mengingat biaya yang mahal dan peluangnya yang begitu kecil.

Kupikir ibu tidak akan merawat ayah seniat itu, mengingat dia juga masih bekerja sampai larut malam. Kupikir ibu tidak mencintai ayah sebegitunya.

Pikiranku saat itu masih terpatri: “Apa poinnya ayah masih dicintai oleh ibu? Bukankah tidak ada lagi alasan untuk mencintainya?”

Mencintai adalah Keputusan, Bukan Perasaan

Barulah saya mengerti, ibu mencintai ayah bukan karena dia layak untuk dicintai, namun karena ibu memilih untuk mencintainya.

Walau masa lalu seakan hanya membawa luka, namun itu semua tertutup oleh yang namanya cinta. Share on X

Kadang mencintai tidak butuh alasan, karena tatkala alasan yang sementara itu berubah, cinta akan memudar seiring dengan memudarnya alasan itu. Sejatinya mencintai itu pilihan yang membutuhkan komitmen, komitmen untuk mencintai yang dipilih, dan memilih untuk mencintai.

Seperti pernah dikatakan seseorang:

“Kasih yang bertahan tidak ditentukan oleh orang yang dikasihi, melainkan oleh orang yang memilih untuk mengasihi.”

Cinta itu pilihan, bergantung pada kita sebagai subjek, bukan pada pasangan kita sebagai objek.

Niscaya ketika pasangan kita berubah, kita tetap mampu mencintainya. Bukan karena bagaimana mereka, namun karena kita memang memilih untuk mencintai. Karena ketika janji pernikahan kita ucapkan, kita tidak hanya berjanji menikahi kelebihannya, tapi juga kekurangannya di masa lalu, sekarang, dan di masa yang akan datang. Kita tahu itu, dan kita tetap memilih dia sebagai pasangan kita bukan?

Jadi, apakah cinta sejati itu sungguh-sunggguh ada?
Jawabannya ada pada pilihan kita.
Memilih untuk mencintai atau mengkhianati.

Baca Juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here