Sinetron Indonesia yang tayang di layar kaca hampir setiap minggunya, pada umumnya membahas tentang harta, tahta, dan wanita. Ketiga variabel tersebut saling berkaitan satu sama lain. Sepertinya, tidak ada kisah yang lebih menarik untuk dijadikan ide cerita sebuah sinetron. Namun, kisah dalam sinetron itu sendiri tidak jauh berbeda dengan kehidupan nyata. Bahkan, kisah yang terjadi di kehidupan jauh lebih dramatis dan kompleks.

Anindita, teman saya menceritakan kisah ini pada saya. Saya sangat tertarik untuk membahasnya dan berharap ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi setiap pembaca tentang bagaimana menyikapi harta warisan dengan bijak.

“Ketika sedang menikmati liburan Idul Fitri, ibu saya sedikit terguncang setelah mendengar kabar bahwa tanah warisan dari kakeknya sudah dijual secara sepihak, tanpa sepengetahuan ibu. Tanah tersebut sudah dijual sekitar satu tahun yang lalu dengan nilai ratusan juta, dan ibu baru mengetahuinya. Ditambah, ibu tidak mendapat bagian apa pun dari hasil penjualan tersebut, maka semakin marah dan geramlah Ibu ketika beliau mengetahuinya kenyataan ini.”

Baca juga: Perjuangan Memiliki Rumah: Bertahun-tahun Meminta, Saat Berhenti Melakukannya, Kami Mendapatkan bahkan Lebih dari Sekadar Rumah

Masalah warisan tersebut sudah bertahun-tahun dibahas namun tidak pernah terselesaikan dengan baik. Menurut kisah, kakek dari garis ibu memiliki enam orang anak. Ketika kakek meninggal, anak pertamanya dengan diam-diam mengganti surat kepemilikan tanah peninggalan ayahnya. Surat tersebut mengatasnamakan dirinya sebagai pemilik yang sah. Tindakan tersebut tentunya memicu konflik.

Tapi saudara yang lain seakan tidak mampu berbuat apa-apa melihat keserakahan kakak pertama. Setiap usaha yang dilakukan untuk mengurus surat yang benar selalu terganjal masalah: mulai dari ketiadaan saksi, aparat desa yang sudah pensiun dan meninggal, mahalnya biaya pengacara, dan lain-lain. Kakak pertama kemudian mewariskan tanah yang berhasil “dirampasnya” tadi kepada kesepuluh anak-anaknya. Alhasil, dari 30 orang cucu, hanya 10 orang cucu yang mendapat bagian warisan tersebut.”

“Saya dan ayah yang mendengar cerita ibu berusaha menenangkan ibu. Kami membesarkan hatinya supaya tidak jatuh dalam kekecewaan yang dalam, yang berakibat pada rusaknya hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Saya bukan dari keluarga berada yang dengan mudah mendapatkan harta kekayaan. Jadi, apabila bisa menerima harta warisan tersebut, maka itu bagaikan mendapatkan rezeki nomplok.”

Baca juga: Satu Hal Tentang Rezeki yang Seringkali Terlupakan di Tengah Kerja Keras Kita

Secuplik kisah di atas bukanlah satu-satunya kisah yang berkaitan dengan warisan yang bisa kita dengar.

Masih banyak kisah pilu lainnya akibat perebutan warisan: rusaknya hubungan persaudaraan bahkan berujung pada tindakan kriminalitas.

Dengan adanya fenomena di atas, apakah yang bisa kita pelajari sekaligus melakukan tindakan preventif agar kejadian serupa di atas dapat diminimalisir:

 

1. Bertindaklah bijak dan adil kepada anak

Mengistimewakan salah satu anak akan memunculkan kecemburuan dari saudaranya. Namun, jika anak ini memang memerlukan perhatian lebih karena misalnya kekurangan fisik yang dimiliki, maka itu bisa dijadikan pengecualian.
Tindakan bijak dan adil orangtua bisa dibaca dan akan diteladani oleh anak sejak dini. Click To Tweet

 

2. Tanamkan pada anak supaya tidak bergantung pada kekayaan orangtua pada mereka atau berharap kejatuhan warisan

Paman saya memiliki dua orang anak. Anak pertama sudah dibelikan sebidang tanah. Anak kedua nantinya akan mendapatkan bagian rumah yang sekarang masih ditinggalinya.
Suatu kali, rumah tersebut mendapat kompensasi atau ganti rugi karena berada di area SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Karena anak kedua merasa nantinya berhak mendapatkan rumah tersebut, maka ia turut menuntut untuk bisa menerima bagian kompensasi sutet. Kondisi rumah tersebut memang masih bisa ditempati, tetapi membutuhkan beberapa perbaikan.
Paman saya sudah mendapat banyak masukan supaya dia merenovasi rumahnya, namun Beliau tidak ambil pusing dan justru mengacuhkannya. Mengingat rumah tersebut akan jadi bagian anak keduanya, maka dia menyerahkan urusan renovasi kepada anaknya, yang belum tentu akan merenovasinya dalam waktu dekat. Serba salah bukan?

Saya pernah mendengar seorang ibu yang berbagi pikiran melalui siaran di radio. Beliau mengajarkan kepada anaknya, supaya belajar, bekerja keras, dan mencari sendiri kekayaannya. Beliau menekankan kepada anaknya bahwa rumah yang ditempati sekarang tidak akan diwariskan kepada anaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here