6. Memimpikan orang lain yang seharusnya menjadi pasangan, tak mampu mensyukuri apa yang ada
Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau daripada di halaman sendiri, begitu kata pepatah zaman dulu. Seringkali terlupakan jika rumput tersebut nampak lebih hijau dan indah berarti upaya dan biaya perawatannya juga lebih besar.
Pada zaman di mana reuni menjadi aktivitas sehari-hari berkat kehadiran media sosial dan grup-grup WA, maka seringkali terjadi perbandingan diam-diam. Tindakan melihat “rumput” tetangga menjadi aktivitas tak terhindarkan. Perbandingan antara pasangan dan mantan-mantan yang ada. Percayalah, dalam perbandingan itu biasanya pasangan yang ada kalah telak. Mantan atau teman akan nampak lebih indah. Barangkali kejenuhan di dalam relasi adalah salah satu faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.
Perbandingan yang berlansung diam-diam itu akan menggerogoti rasa syukur atas keberadaan pasangan yang selama ini dengan setia mendampingi.
Seperti kayu yang “dimakan” rayap, tampilan luar nampak masih baik, sementara yang di dalam sudah habis-habisan. Demikianlah yang akan terjadi, jika kita terus membuat perbandingan antara pasangan dan mantan atau teman yang mungkin kita jumpai dalam sebuah reuni.
Baca Juga: Reuni Berbahaya bagi Keutuhan Rumah Tangga? Ya, Jika 3 Hal Ini Menyertainya
7. Tak lagi memunyai harapan masa depan bersama sebagai pasangan
Di mana ada cinta, di situ harapan bertumbuh. Seperti pupuk yang dibutuhkan tanaman untuk berbunga, demikianlah cinta bagi harapan.
Harapan juga adalah tanda bahwa relasi memandang dan bergerak ke depan. Kita hanya bisa memandang dan bergerak ke depan, ketika tak terlalu terbebani dengan masa silam.
Ketika tak ada lagi percakapan tentang harapan masa depan, barangkali relasi sudah terlalu berat untuk dijalani pada saat ini. Ketika tak lagi mampu menatap ke depan, barangkali hanya kenangan yang kita miliki. Masalahnya: kita tak bisa hidup hanya dengan kenangan, bukan?






