Dalam sebuah perjalanan baru-baru ini, mobil yang saya kendarai ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil angkot. Mobil ini sebelumnya sudah mendapatkan perhatian dari saya dan para pengemudi yang ada di sekitarnya karena cara sang sopir yang mengendarainya tanpa memerhatikan pengguna jalan yang lain.

Beberapa waktu sebelumnya, mobil angkot ini beberapa kali dengan tiba-tiba berhenti di tengah jalan untuk mengambil penumpang. Di tengah jalan yang cukup padat, tindakannya itu sangat mengganggu kelancaran lalu lintas. Ketika sudah berada di belakangnya, saya pun lebih berhati-hati dalam mengemudi kendaraan saya. Saya perlu menjaga jarak yang lebih untuk mengantisipasi manuver dari mobil angkot tersebut.

Benar saja, tak lama kemudian, sopir angkot itu dengan tiba-tiba menghentikan kendaraannya di tengah jalan. Saya pun menggunakan kesempatan ini untuk menyalipnya.

Ketika saya baru saya melupakan mobil angkot itu, sebuah suara benturan dari belakang mengagetkan saya dan istri saya. Lewat spion kiri mobil, saya melihat bahwa yang baru saja menabrak mobil kami adalah mobil angkot itu.

Dalam hitungan waktu yang sepersekian detik itu, beberapa hal terjadi dalam diri saya.

Respons awal saya adalah respons default yang muncul dari bagian otak yang bernama amigdala. Sama seperti orang primitif yang bertemu dengan seekor hewan liar ribuan tahun yang lalu, otak ini bisa melakukan kalkukasi super cepat yang tak dapat dikalahkan oleh komputer super manapun, dan memberikan salah satu dari dua perintah untuk kita lakukan agar bisa tetap hidup: melawan atau melarikan diri. Makan atau menjadi makanan.

Sehubungan dengan kondisi saya, maka secara refleks saya segera turun dan membuat perhitungan dengan sang sopir. Insting itu berkata bahwa saya berhak untuk menghentikan mobil tanpa memedulikan pengguna jalan yang lain untuk segera menyelesaikan urusan dengan pihak yang salah itu. Berada pada sisi yang benar menimbulkan keberanian untuk melakukan pembelaan dan meminta pertanggungan jawab dari pihak lain.

Untung saat itu saya memiliki seorang sahabat yang juga merupakan pasangan hidup saya. Setelah saya katakan bahwa yang menabrak mobil kami adalah sebuah mobil angkot, istri saya segera menahan saya lewat kata-kata bijaknya. Ia berkata bahwa bila itu sopir angkot, maka tidak ada gunanya untuk turun dan berbicara. Sopir itu tidak akan mau bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Ia kemudian memperlihatkan kemungkinan yang bisa muncul bila saya tetap bersikeras untuk turun: Sakit hati dan marah.

Mendapatkan teman bicara yang mampu memahami kita dan memberikan pemikiran yang tenang dapat menghindarkan kita dari banyak masalah dan kesalahan. Click To Tweet

 

Saya pun akhirnya memutuskan untuk “membebaskan” sopir itu dari kesalahannya. Buat saya,

akibat kerusakan mobil tidaklah sebanding dengan pengurasan emosi yang akan keluar bilamana saya menuruti insting semata.

Bahkan besar kemungkinan tindakan yang menuruti emosi semata itu bisa memperkeruh kondisi yang ada.

Buat saya, membiarkan sopir angkot yang menabrak mobil saya itu pergi tanpa perlu mempertanggungjawabkan kesalahannya merupakan pilihan yang tepat.

Baca Juga: “Jika Jodoh di Tangan Tuhan, Bagaimana Mengetahui Pasangan yang Tepat Untuk Saya?” Ikuti GPS Jodoh Ini, Siapa Tahu Anda Menikah Tahun Ini!

 

Akan tetapi, keputusan untuk pergi meninggalkan masalah yang ada tidak selalu menjadi pilihan yang tepat. Bahkan untuk hal-hal yang jauh lebih penting dalam hidup ini, masalah tersebut tidak serta merta menjadi lebih baik setelah kita tinggalkan dan abaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here