Tidak ada yang pernah menyangka, apalagi berharap tragedi tersebut menimpa orang yang kita kasihi. Pernikahan sudah direncanakan, rumah tangga sedang manis-manisnya, kebutuhan anak sedang dipersiapkan. Yang diharapkan tentu sukacita, bukan dukacita. Tidak ada yang mempersiapkan untuk kematian pasangan.

Tidak perlu dipertanyakan, kesedihan pasti menjadi teman akrab mereka di saat-saat seperti ini. Apalagi dipertanyakan firasatnya sebelum kejadian. Rasanya menangis menjadi satu-satunya cara meluapkan perasaan mereka, dan air mata menjadi makanan sehari-hari.

Bagaimana jika hal itu menimpa kita? Ditinggal orang yang begitu kita kasihi selamanya disaat api cinta itu sedang membara begitu hebatnya.

Rasanya kita tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Membayangkannya saja enggan. Tapi setidaknya kejadian ini membawa kita pada sebuah perenungan yang dalam. Respon seperti apa yang tepat tatkala menghadapi situasi seperti ini?

Baca Juga: Lion Air JT 610 Jatuh. 5 Pelajaran yang Seharusnya Tak Terlupakan Ketika Hidup Tak Seperti Harapan

 

Kita sebagai korban

Tidak ada yang bisa saya katakan selain rasa belasungkawa. Sebagai korban, mungkin anda juga sudah kenyang menerima nasehat dan kata-kata penghiburan dari orang-orang disekitar anda

Mungkin hati anda seperti dua kertas yang direkatkan dengan kencang, lalu langsung dipisahkan dengan paksa. Sakit dan pedih, sampai mati rasa. Saya sebagai orang yang tidak mengenal anda tidak akan menghujani Anda dengan lebih banyak nasehat. Namun ijinkan saya membagikan sebuah doa:

“Ya Allah, punya-Mu lah kehidupan, punya-Mu lah kematian. Engkau yang memberi, Engkau yang mengambil. Aku sungguh mengasihi pasanganku, Engkau tahu itu. Tapi Engkau tetap mengambilnya dari hidupku. Ajar aku untuk tidak mengumpat, melainkan bersyukur. Bersyukur karena Engkau telah meminjamkan seorang pasangan yang mengasihi aku dan aku kasihi. Sekarang Engkau telah mengambil kembali milik-Mu, terima kasih untuk saat-saat indah bersamanya.”

Saya yakin kesedihan tetap ada. Tapi setidaknya dengan berdoa demikian pola pikir kita diubah bahwasannya pasangan kita bukanlah hak kita, melainkan Sang Empunya Kehidupan.

Dengan begitu kita akan sadar bahwa merelakan pasangan ke pangkuan pemiliknya dan melanjutkan kehidupan kita adalah jalan terbaik. Click To Tweet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here