Tidak lagi meminta rumah, kami mengucap syukur karena Tuhan menyediakan rumah tersebut bagi kami. Tidak lagi kami taruh di dada, kedua tangan kami angkat ke atas kepala. Ungkapan terima kasih atas jawaban doa, walaupun kami belum menerimanya.
Tak butuh waktu lama. Meski penuh lika-liku, dengan berserah penuh, dengan bersyukur selalu, kami mendapatkan rumah di kawasan Kutisari, Surabaya.
Rumah ini tidak jauh dari sekolah anak-anak kami di Jemursari. Sangat dekat dengan pekerjaan baru saya di kawasan Brebek Industri. Juga dekat dengan akses tol yang memudahkan istri saya bekerja di Sidoarjo. Di atas semuanya, kami juga tetap bisa menunaikan panggilan pelayanan seperti biasa.
Hampir tiga tahun yang lalu kami menandatangani berkas-berkas KPR di hadapan notaris, pada peringatan ulang tahun pernikahan kami kedelapan. Delapan, sebuah angka yang sarat makna, kebaikan Tuhan tak berawal dan tak berakhir.
Rumah pertama.
Kami mendapatkannya karena kami sepakat, tidak bimbang, tidak mendua hati.






