Waktu terus berjalan, kami pun tidak lagi berdua. Di tahun kedua pernikahan, kami mendapatkan anugerah. Seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu, anak pertama kami. Juga mama saya, yang tinggal bersama kami setelah Papa berpulang selamanya.

Dorongan memiliki tempat tinggal sendiri semakin besar ketika anak kami akan masuk Sekolah Dasar. Kami harus cermat berpikir sebelum memutuskan, sekolah mana yang akan kami pilih. Kami berdoa sungguh-sungguh supaya jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Ketika akhirnya anak kami masuk di SD Kristen di kawasan Jemursari,

kami percaya Tuhan akan sediakan rumah tidak jauh dari sekolah. Entah bagaimana caranya.

 

Istri saya kemudian mengandung lagi. Dan kali ini, tanpa diduga, Tuhan memberi kami anak kembar.

Ada perasaan sangat excited selama proses kehamilan dan persalinan kala itu. Namun, di sisi lain,

pengeluaran yang semakin besar membuat impian memiliki rumah pelan-pelan kian menjauh.

Justru kebutuhan untuk memiliki mobil mulai muncul, mengingat sudah tidak memungkinkan lagi berangkat ke gereja dengan tiga orang anak-anak yang masih kecil menggunakan sepeda motor.

Tuhan menyatakan kebaikan-Nya, tanpa diduga istri mendapatkan pinjaman mobil kantor sehingga kami sekeluarga bisa berangkat ibadah menggunakan mobil. Kami bersyukur atas hal ini walaupun karena akses yang sulit untuk memasuki jalan ke arah rumah kami, kami harus menyewa lahan parkir mobil agak jauh dari rumah.

Baca Juga: Unexpected Pregnancy: Anak Laki-laki Ketiga dan 3 Anugerah Indah Lain dari Sebuah Kehamilan yang Tak Terduga

 

Doa tentang rumah kembali menjadi fokus. Permohonan yang tidak pernah lupa kami panjatkan, khususnya setiap kali Bapak Gembala memberikan kesempatan kepada jemaat untuk menaikkan doa dan permohonan di hadapan Tuhan.

“Arahkan pandanganMu pada Tuhan. Jika ada permohonan, taruhlah tangan kirimu di dada dan tangan kananmu terangkat ke atas. Naikkan dan nyatakan doa dan permohonanmu pada Tuhan.”

Itulah yang selalu beliau katakan sebelum memberi doa berkat dan menutup ibadah raya tiap hari Minggu.

Itulah yang kami lakukan, bertahun-tahun.

 

Selang beberapa saat, beberapa tawaran pekerjaan baru menghampiri saya.

Penawaran-penawaran sebenarnya sangat menarik secara finansial dan dapat dijadikan modal untuk membayar DP rumah. Sayangnya, semuanya berlokasi jauh dari Surabaya.

Kami meyakini, jarak ada pengaruhnya terhadap hubungan keluarga dan pelayanan di gereja. Karenanya, kami lebih memilih melewatkan tawaran-tawaran itu, walau untuk itu impian memiliki rumah kembali harus tertunda.

Bukankah langit, bumi, dan segala isinya adalah kepunyaan Tuhan? Adalah sebuah perkara yang sangat mudah bagiNya untuk memberikan sebuah rumah bagi kami.

Sejak saat itu, kami berhenti berdoa meminta rumah. Berhenti menaruh tangan kiri kami di dada.

Baca Juga: Tak Pernah Kehidupan Mengambil dari Kita, Selain untuk Mengganti dengan yang Lebih Baik. Lebih Baik di Mata Sang Empunya Kehidupan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here