Saya diam dalam paham, orang ini adalah salah satu korban yang berusaha kembali mencari korban lain yang belum ikut mengungsi ke Makassar.
Setelah tiga jam menunggu, akhirnya relawan dipanggil dan diberi tiket. Saya berdiri sendiri di antara relawan-relawan lain yang berangkat dengan tim mereka masing-masing. Petugas menghitung kami dan mengumumkan hal-hal teknis terkait.
Kami baru akan berangkat dini hari, maka tidur di kompleks bandara atau sekitarnya adalah wajib. Setelah keberangkatan diundur berkali-kali, kami diizinkan naik dan diangkut bersama dengan beragam jenis bantuan.
Membayangkan keluarga serta mereka yang menunggu bantuan membuat saya dan tentunya para relawan lain kuat, menunggu 20 jam, berdiri di antara barang-barang, lalu membantu proses muat dan bongkar ribuan item bantuan.
Dukungan Orang Terdekat
Sumber kekuatan berikutnya ialah dukungan dari orang-orang terdekat.
Sebelum saya berangkat, rekan sekantor sibuk menghubungi tim relawan dari jaringannya untuk membukakan jalan bagi saya. Anggota komunitas seiman bergantian mengirim pesan berisi keprihatinan dan doa. Sahabat-sahabat bergantian menanyakan kesiapan, bahkan membantu check list serta pengadaan perlengkapan. Kiriman bantuan dan obat-obatan saya terima.
Semalam sebelum saya ‘pulang’, mereka yang terdekat meluangkan waktu untuk makan bersama.






