Saya siap dan yakin.

Kamis, 4 Oktober 2018, saya pulang. Pulang bagi tanah air tempat saya dibesarkan. Juga jika pada akhirnya, kepada Sang Pencipta.

 

 

Keyakinan dan Panggilan

Di tengah maraknya berita tidak mengenakkan, bahkan menakutkan, soal kota Palu, saya mulai mengumpulkan informasi. Kepada beberapa orang yang memberi peringatan, jawaban saya, “Jika bukan kita, siapa lagi yang akan memberi makan bagi mereka?”

Menurut saya inilah sumber kekuatan relawan: Keyakinan dan panggilan.

Keyakinan yang lahir dari pengetahuan akan medan juang dan kemampuan diri. Panggilan bahwa para penyintas bencana membutuhkan uluran tangan. Dan karena itu, saya tidak tenang.

 

Keyakinan dan panggilan itu diuji ketika saya tiba di Makassar.

Penerbangan komersial yang tadinya buka ternyata dibatalkan. Saya sudah memprediksi hal ini, sehingga tidak membeli tiket apa pun.

Pilihan yang tersisa ada tiga: Menumpang pesawat Hercules TNI AU, jalur darat 16 jam dengan sewa mobil, penerbangan ke Poso lanjut perjalanan darat 6 jam. Pilihan pertama saya ambil dengan pertimbangan efektivitas dan keamanan.

Saya segera ke Lapangan Udara TNI AU Sultan Hasanuddin, berkumpul dengan relawan-relawan dan keluarga yang antre untuk naik ke pesawat Hercules.

Mental kembali diuji saat seseorang berkata,

“Mba relawan, ya? Seharusnya kami keluarga korban yang diutamakan. Relawan ke sana untuk apa? Toh juga tidak mau mengangkat mayat-mayat yang sudah berikat di jalan. Apalagi relawan cewek. Bisa apa?” 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here