1) Jangan mudah termakan hoax

Jangankan netizen yang polos, politisi dan kaum intelektual saja bisa terhanyut dalam drama ini.

Jadilah pembaca yang cerdas. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan informasi tersaji begitu cepat dan mudah. Hampir semua orang bisa menulis berita, termasuk berita bohong.

Jangan menelan informasi mentah-mentah. Berita hoax sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga menarik mata, memikat hati dan menyulut emosi.

Selalu cari informasi pembanding. Pikir menggunakan logika, bukan dengan jari.

Tugas kita bukan memblokir orang lain untuk menulis dan menyebarkan berita hoax, melainkan menyaring, menguji dan membagikan informasi yang merupakan kebenaran dan bermanfaat bagi orang lain.

 

2) Kebohongan satu akan memunculkan kebohongan berikutnya

Drama penganiayaan ini bermula dari kebohongan. Beliau merancang alasan jadi-jadian untuk mengantisipasi pertanyaan anaknya saat melihat muka lebam-lebam akibat operasi plastik. Kebohongan itu berlanjut hingga satu minggu karena terus menerus dikorek.

Dan saya nggak tahu kenapa, dan saya nggak pernah membayangkan bahwa saya akan terjebak dalam kebodohan seperti ini. Saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita,” ujarnya.

Semakin dikorek, kebohongan itu akan semakin menjadi-jadi. Kebohongan kecil itu memberikan efek domino dan sampai ke telinga orang tertentu dan BOOM! Kebohongan ini kepalang menyentuh point of no return.

Maju kena, mundur kena. Ratna Sarumpaet tidak berkutik, alias skak mat. Beliau tidak dapat berkelit sampai kebenaran terkuak dengan sendirinya. Cepat atau lambat, kebenaran pasti tersingkap.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here