Sesuatu yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin; itulah IMAN. Awalnya tidak bisa menjadi bisa; itulah DOA. Ujungnya, kita pun tertawa lega karena satu per satu hal yang sulit mampu terlewati, tentu dengan adanya PENGHARAPAN.

 

Ketiga, Hidup itu Selalu Berjuang, tetapi Bukan Perjuangan Biasa

Benar, perjuangan kita adalah perjuangan yang “TIDAK EGOIS”, alias hanya untuk diri sendiri saja.

Banyak anak zaman now pandai dan pintar. Sukses pula dalam masa muda mereka, tetapi sungguh miris. Mengapa? Karena mereka hidup berjuang hanya untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan sendiri saja, tanpa berbagi kebahagiaan ataupun berkat dengan orang lain. Itulah salah satu contoh perjuangan yang egois.

Sementara itu, bukankah lebih baik jika anak-anak kita dapat bertumbuh menjadi pribadi yang tidak egois? Itu sebabnya, mereka perlu belajar menempuh perjuangan yang TIDAK EGOIS.

Sebagai ibu, tentu pada awalnya hati ini sedih. Saya harus membangunkan si kecil saat dia sedang tidur siang dengan lelap di kursinya untuk segera keluar menjemput kakaknya. Hati saya juga ikut menangis melihat sang kakak yang masih balita harus berjalan naik turun beberapa kilometer untuk bolak-balik dari rumah ke sekolah. Namun, saya sadar,

Justru sejak kecillah, anak-anak kita perlu mulai mengenal apa yang namanya BERJUANG. Share on X

Berjuang perlu proses. Kadang proses itu tidak enak. Proses itu sakit. Kita mungkin harus meninggalkan kondisi nyaman kita sesaat. Jauh dari rumah yang hangat, kursi yang empuk, dan selimut yang lembut. Kita harus keluar dari pintu gerbang dan siap menyambut dinginnya angin, dan basahnya hujan. Merasakan sulitnya menempuh tanjakan naik dan turun, bolak-balik rumah dan sekolah, apalagi bagi kaki-kaki mungil bersepatu boot. Tak jarang, mereka pun mengeluh dan ribut kalau kakinya sakit, lalu minta dipijat dengan minyak kayu putih.

Ya, mengajarkan apa yang namanya berjuang di dalam sebuah perjalanan kehidupan apalagi kepada anak-anak memang sulit. Dari pengalaman yang ada setiap harilah kita bisa belajar. Bagi banyak orangtua, membiarkan anak melewati masa yang sulit terkesan begitu tega. Kenapa kita tidak selalu menyediakan yang terbaik bagi mereka? Namun, semua itu pilihan. Ada yang mampu membuat anak siap berjuang, ada yang hanya membuat mereka selalu terlena dengan kenyamanan.

Baca Juga: Saya Anak Penunggak Uang Sekolah. Setelah 15 Tahun Akhirnya Saya Mengerti Mengapa Saya Harus Menanggung Malu karena Keterbatasan Finansial

 

Suatu malam, saat semua sudah terlelap, tak terasa ada rasa hangat yang mencercah keluar dari dalam hati seorang ibu. Hati itu pun berkata,

“Maaf kakimu harus sakit, Nak. Badanmu juga pasti lelah, tapi Mama percaya kamu akan menjadi anak yang kuat dalam menghadapi hidup ini. Semakin besar kamu, semakin besar juga kendala yang ada di depanmu. Tapi Tuhan besertamu selalu, Nak. Hanya Dia yang akan terus mendampingimu sampai masa putih rambutmu. Tugas Papa dan Mama hanya mengajarkanmu bagaimana kita harus berjuang tanpa menyerah sambil terus berdoa.”

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here