“Sejauh ini tidak. Aku gak tahu apakah sesungguhnya mereka tahu tapi tidak ingin menyakiti aku,” Betty terdiam sejenak, “Soal anak ini banyak masalahnya. Salah satunya tentang status. Kedua anak ini tidak punya surat apa pun, bagaimana mereka bisa sekolah? Tapi Tuhan itu sangat baik. Suatu hari ada pendataan penduduk. Waktu petugas datang, aku bercerita kalau Joshua dan Agnes belum punya akta lahir. Tak disangka, bapak petugas bersedia membantu membuatkan dengan membayar biaya tertentu yang tidak mahal. Jadilah dalam akta, mereka berdua berstatus anak kandungku dan tercatat di kartu keluarga juga. Hal yang tak terpikirkan, semua Tuhan atur sempurna. Sekarang anak-anak sudah kuliah, Josh tahun depan lulus, Agnes semester satu.”

 

“Apakah Don sekarang baik sikapnya?”

“Baik sekali juga tidak. Setelah kena stroke ringan, dia, kan, selalu butuh ada yang mengurus obat dan makanannya. Sifatnya yang suka menyalahkan masih ada, meski tidak separah dulu. Umur makin bertambah jadi keluyurannya sudah mulai berkurang. Uang tetap aku yang mengatur. Mami mertua juga minta supaya aku jangan cerita kepada Don, apa saja harta yang dimilikinya. Lucu … Mami lebih percaya menantu daripada anaknya sendiri,” Betty terbahak.

“Wow! Sejujurnya aku ga menyangka ada orang yang hidupnya melebihi kisah sinetron. Pantas Alin ngotot aku harus ketemu kamu, Betty.”

“Setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Seberat apa pun, jika kita jalani bersama Tuhan, hasilnya akan baik. Josh dan Agnes sangat mengasihi aku, bahkan lebih daripada mereka mengasihi papi mereka. Mereka anak yang pandai, rajin, bertanggung jawab, dan yang terpenting, cinta Tuhan. Itu kebahagiaanku yang tak ternilai harganya. Apalagi yang dicari dalam hidup?”

Baca Juga: Tak Pernah Kehidupan Mengambil dari Kita, Selain untuk Mengganti dengan yang Lebih Baik. Lebih Baik di Mata Sang Pencipta

 

Seorang pemuda ganteng dengan seorang gadis cantik memasuki lobby. Ternyata itu Joshua dan Agnes. Mereka sudah selesai berbelanja dan hendak menjemput Betty, mami mereka.

Berkenalan sejenak, mereka bertiga kemudian pamit.

Udara malam kian terasa dingin menusuk tulang. Rasa kagum menyeruak dalam dada, inilah contoh anak Tuhan sejati yang tetap teguh memegang kebenaran, bagaimana buruk pun keadaannya.

 

 

“The wise woman builds her house, but with her own hands the foolish one tears hers down.”Book of Proverbs, Solomon

Rumah tangga dibangun oleh kebijaksanaan wanita, tetapi diruntuhkan oleh kebodohannya.

 

☕,

Yenny Indra
www.mpoin.com

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here