“Tidak. Di hadapan Tuhan aku sudah berjanji akan tetap setia dalam keadaan apa pun, aku tidak berani mengingkarinya. Mertuaku menentang hubungan Don, anaknya satu-satunya, dengan perempuan itu, tetapi Don tidak peduli. Mertuaku mengajakku tinggal bersamanya,” terang Betty, “Pekerjaanku antar-jemput mertua dan menemani beliau ke mana saja. Aku hanya mengandalkan seberapa mertua memberiku uang jajan. Aku mengabdi kepada beliau sebagai pelayananku kepada Tuhan.”

 

Tiga tahun tak terasa berlalu.

Hubungan Don dengan simpanannya berantakan. Uang habis, sementara Don tidak tekun bekerja. Tidak tahan lagi, perempuan itu pergi sendiri. Meninggalkan Don dengan anaknya yang berusia sekitar dua tahun.

Don membawa anak itu ke rumah maminya. Betty yang merawat anak itu. Joshua, Betty memberi anak itu nama.

Sekitar enam bulan Don menetap di rumah. Betty sempat berharap rumah tangga mereka pulih kembali. Ia rela mengasuh Joshua seperti anaknya sendiri. Ia tetap melayani Don sebagaimana mestinya, tanpa pernah mengungkit tentang perempuan simpanannya.

Tiba-tiba saja, Don kembali menghilang. Beredar kabar kalau Don tengah berpacaran dengan seorang janda muda.

Kali ini Don hampir tidak pernah lagi mengunjungi maminya. Kalaupun datang, hanya sebentar, untuk minta uang.

Baca Juga: Apakah Duda Selalu Nakal dan Janda Selalu Menggoda? Inilah yang Saya Temukan

 

Ada sebuah ruko milik mertua Betty yang kosong karena belum juga laku disewakan. Sang mertua kemudian berinisiatif menjadikan ruko itu tempat usaha Betty dan memberinya modal. Betty membuka butik yang cukup berkembang.

Mertua Betty mengasihi Betty bagai anaknya sendiri, ia bahkan lebih mempercayai Betty daripada Don, anak tunggalnya. Semua perhiasan dan deposito, Betty yang menyimpan dan mengaturnya. Dari penghasilan butik Betty membesarkan Joshua.

Suatu ketika, mertua Betty sakit dan harus diopname di rumah sakit. Betty yang menjaga siang malam. Don tidak kunjung menjenguk meski sudah diberi kabar dan diingatkan berulang kali.

Akhirnya Don datang juga.

Betty memilih duduk di luar kamar agar mertuanya bisa berbincang bebas dengan anak laki-lakinya.

 

Saat itu, seorang perempuan perlahan datang mendekati Betty.

“Bu, saya mau minta maaf. Saya sudah merebut suami ibu,” isak perempuan itu sambil mengusap air matanya.

Betty terperangah, lidahnya kelu.

“Saya berdosa terhadap Ibu, itu sebabnya kehidupan kami tidak bahagia. Penuh pertengkaran. Rezeki rasanya jauh sekali. Tidak ada ketenteraman sedikit pun.”
Perempuan itu meraih tangan Betty, menciumnya dan menyentuhkan ke keningnya.

Sebelum Betty benar-benar tersadar, perempuan itu meletakkan bayi kecil di gendongannya ke pangkuan Betty.

“Bu, titip anak saya. Sudah lama saya memikirkannya. Kalau Ibu bisa mengasuh anak Don yang satu, tentu Ibu mampu merawat anak saya lebih baik dari saya sendiri. Don berulang kali mengatakan, Joshua lebih sehat dalam asuhan Ibu daripada diasuh ibu kandungnya”.

“Nanti dulu, Bu … Kita harus bicara dengan Don,” cegah Betty.

Perempuan itu bergegas pergi, entah menuju kemana. Hanya bayi cantik dan sebuah tas baju serta peralatan bayi yang ditinggalkannya.

Sejak kejadian itu, bayi cantik itu diasuh oleh Betty. Agnes, nama yang diberikan Betty untuk bayi itu.

Lagi-lagi, Don kembali ke rumah. Setiap malam ia masih bergadang. Berganti-ganti pacar. Hingga suatu saat Don mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya sedikit cacat. Mulailah dia berubah, walau tidak banyak. Ia mau beribadah walaupun masih kerap membolos.

Baca Juga: Membesarkan 7 Anak dari 3 Istri Simpanan, Perempuan Bijak Ini Memenangkan Kembali Suaminya dengan Strategi Apik dan Cerdas

 

“Kamu muda, cantik, berpendidikan, mengapa tidak menikah lagi? Apakah kamu amat sangat mencintai Don hingga mau diperlakukan seperti itu?” tanya saya.

“Bagiku, pernikahan bukan hanya antara aku dan Don tetapi ada Tuhan yang mempersatukan kami. Kalau aku mengkhianati pernikahan ini berarti aku mengkhianati Tuhan. Menikah adalah ibadah, sarana untuk melayani Tuhan. Aku menganggap Joshua dan Agnes adalah titipan Tuhan yang harus aku didik dan kasihi sepenuh hati. Mereka memang bukan anak yang lahir dari rahimku tetapi mereka anak yang dianugerahkan Tuhan untukku. Bagiku pernikahan hingga maut memisahkan.”

Baca Juga: Sebuah Perselingkuhan Menguak Rahasia: Mengapa Sebuah Pernikahan Bisa Berada di Ambang Kehancuran

 

“Bagaimana dengan keluargamu?”

“Awalnya mereka menginginkan aku kembali ke rumah orang tuaku. Akan tetapi pada akhirnya mereka bisa menerima keputusanku.”

Betty menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Kalau ditanya, sakitkah? Sangat sangat sakit. Pada awalnya seolah tak tertahankan. Ibaratnya harga diriku sudah terinjak-injak habis hingga tidak ada rasanya lagi. Satu-satunya yang aku lakukan adalah berdoa, baca Firman, dan terus mencari hadirat-Nya. Yang namanya air mata sudah kering, tidak ada yang tersisa. Dari sanalah aku diproses makin dewasa rohani. Yang sungguh tak terduga, dalam penderitaan yang paling dalam justru kehadiran Tuhan sedemikian nyata hingga aku mampu melewati semua ini. Sejujurnya, kalau menengok ke belakang, aku terheran-heran bagaimana mungkin aku bisa kuat? Tuhan sungguh ajaib. Penyertaannya sempurna.”

 

Kalau ditanya, sakitkah? Sangat sangat sakit. Pada awalnya seolah tak tertahankan. Ibaratnya harga diri sudah terinjak-injak habis hingga tidak ada rasanya lagi. Share on X

 

“Anak-anak tahu kamu bukan mama kandung mereka?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here