Ingatlah analogi kaca depan dan kaca spion mobil berikut. Bukankah ukuran kaca depan pada sebuah mobil jauh lebih besar dibanding kaca spion? Kita hanya melihat sesaat pada kaca spion, dan selebihnya fokus pada kaca depan yang lebih besar itu.
3. Ingin selalu bersaing dengan mantan
Biasanya hal ini terjadi karena ada perasaan tidak terima ketika harus berpisah dengan mantan. Hingga sampai menikah dengan orang lain pun masih berambisi membuktikan bahwa dirinya lebih sukses atau lebih hebat dari sang mantan. Akibatnya, segala upayanya selalu bertujuan untuk menyaingi mantan.
Memacu diri untuk lebih sukses, sebagai bentuk reaksi positif karena putus, akan jauh lebih baik hasilnya jika tidakbertujuan bersaing dengan mantan. Jika keinginan sukses dilakukan demi bersaing, namun pada kenyataannya tidak terwujud, dampak berikutnya justru akan memunculkan stres dan bahkan gangguan kejiwaan.
Seorang perempuan yang sejak putus dengan mantannya dan belum selesai dengan masa lalunya merasa capek dalam menjalani hidup meski sudah berkeluarga. Ya, selama menjalani hidup hingga mempunyai anak yang telah menginjak dewasa, perempuan itu masih belum bisa move on. Pekerjaan yang digeluti, perawatan diri hingga gaya hidup, terkesan dipaksakan hanya demi membuktikan diri lebih baik dari sang mantan.
Stop sampai di sini persaingan dengan sang mantan. Hadapilah masa depan dengan kondisi dan keadaan yang ada saat ini. Goodbye, My Eks! Hi, Future. Here I come…






