Mari kita kembali ke cerita keluarga Reggie.

Reggie saat itu sadar bahwa walaupun orangtua selalu memiliki potensi terbesar untuk memengaruhi hidup anak, anaknya kini membutuhkan sesuatu yang tidak bisa ia dan istrinya berikan.

Anaknya membutuhkan suara (pengaruh) lain.

Beberapa waktu kemudian, Reggie kembali memanggil anaknya untuk berbicara. Kali ini, ia berusaha menerima penolakan anaknya dan mengajukan pertanyaan berbeda.

“Kalau kamu tidak bisa ngomong dengan Ayah, siapa yang akan kamu ajak bicara?”

 “Kevin,” balas anaknya.

Reggie mengenal Kevin. Ia tahu bagaimana hidup Kevin. Dan, karena itu, ia merasa lega. Ia tidak perlu lagi memikul berbagai kekhawatiran karena ia tahu bahwa Kevin akan memberikan perkataan dan pandangan yang serupa dengan dia.

Dalam diri Kevin, suara Reggie, sang ayah, bisa tersampaikan kepada anaknya.

Saat itu pula, Reggie bisa melihat hasil dari benih relasi yang telah ditanam secara strategis dalam lingkungan keluarganya. Dengan membangun relasi dengan orang-orang yang tepat di sekitar keluarganya selama bertahun-tahun, Reggie secara perlahan membuka pengaruh ke dalam dunia anaknya.

Relasi yang dipupuk dan dirawat selama bertahun-tahun itu akhirnya memberikan buahnya ketika si anak memasuk masa remaja hingga ia dewasa.

Bagi orang-orang dari generasi terdahulu atau yang masih tinggal di daerah-daerah dengan rasa kekeluargaan yang kental, hal ini terjadi dengan sendirinya. Mereka tidak perlu membuat strategi khusus untuk membangun relasi demi anak-anak, karena budaya yang ada memang dengan sendirinya memagari anak-anak dari pengaruh buruk.

Itulah sebabnya dikatakan bahwa it takes a village to raise a child.

Namun, dunia perkotaan dan metropolitan hadir dengan tantangan yang berbeda untuk para orangtua.

Kesibukan, karier, individualisme, dan berbagai faktor X telah masuk menjadi bagian dari banyak keluarga.

Bila keluarga kita hanya berjalan mengikuti arus zaman, besar kemungkinan kita akan terhanyut ke dalam situasi yang berbahaya.

Peristiwa bunuh diri yang diceritakan di bagian pertama mengingatkan saya pada sebuah pepatah Afrika,

“Seorang anak yang tidak mendapatkan pelukan dari desanya akan membakar habis desa itu untuk merasakan kehangatan.”

Bunuh diri, kejahatan, dan berbagai perilaku menyimpang dari generasi masa depan telah “membakar” berbagai wilayah di Indonesia, bukan?

Setiap kali berita itu muncul di hadapan kita, hati ini terasa diiris dan kita bertanya, “Akan jadi seperti apa hari esok?”

Saat ini, saya ingin mengajak kita untuk mulai berpikir secara strategis terhadap relasi yang kita tempatkan di sekitar anak-anak kita.

Benar, tidak ada satu orang pun yang memiliki potensi yang lebih besar untuk memengaruhi hidup seorang anak lebih daripada orangtuanya. Walau demikian, orangtua bukanlah satu-satunya pengaruh yang diperlukan dalam diri anak.

Bila kita ingin bisa mendidik anak melebihi segala keterbatasan kemampuan kita, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan dua kebenaran itu dengan cara membangun relasi yang strategis sejak hari ini demi anak-anak kita.

Reggie Joiner dan Miles, cucunya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here