Bagi sebagian besar kita, refleksi itu bukan saja mengingatkan kita akan pentingnya peran orangtua, tetapi juga betapa jauhnya jarak antara apa yang diharapkan dengan kenyataan.

Walaupun kita terus belajar, terus berusaha untuk menjadi lebih baik, kesalahan demi kesalahan tetap saja bermunculan.

Sebagai orangtua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Namun, keinginan itu sering kali tidak dapat dijembatani dengan segala keterbatasan kita.

Bahkan, di tengah rasa frustrasi, kita bisa melupakan berbagai hal yang telah dipelajari dan kembali menggunakan metode dan didikan yang pernah kita terima, walaupun kita sadar bahwa metode itu tidak pernah bermanfaat ketika kita kecil dulu.

Kita telah dan masih akan mengecewakan pasangan dan anak-anak kita.

Tidak heran, beberapa dari kita kemudian berkata bahwa menjadi orangtua adalah pekerjaan yang terlalu susah. Di dalam hati kecil, kita katakan bahwa kita tidak sanggup lagi. Lewat perilaku, kita pun membesarkan anak secara reaktif dan tanpa arah. Kita menjadi ayah dan ibu hanya ketika kita merasa perlu memberikan respon terhadap apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh anak.

Apakah Anda pernah atau sedang berada di dalam situasi seperti itu?

Reggie Joiner dan Carey Nieuwhof adalah ayah-ayah yang juga mengalami dinamika serupa. Dalam buku Parenting Beyond Your Capacity, mereka membagikan juga pengalaman mereka.

Walaupun berbeda dalam hal-hal spesifik, pemberontakan anak terhadap orangtua merupakan hal yang sangat umum terjadi. Memasuki masa remaja, hampir semua anak akan menutup diri dan membangun laci-laci rahasia yang tersembunyi dari pengetahuan orangtua.

Hal ini juga terjadi dalam keluarga Reggie.

Reggie berkata, walaupun hubungannya dengan anaknya sangatlah dekat ketika anaknya masih kecil, usia remaja mengubah segalanya. Saat itu, anaknya mulai menutup diri. Saat itu, anaknya mulai melanggar dan menjauhkan diri.

Reggie pun tiba di titik puncak ketika ia memaksa anaknya untuk memberitahunya apa yang sedang terjadi. Dan seperti anak remaja lainnya, anaknya menolak.

Ketika Reggie meminta alasan mengapa, anaknya menjawab,

“Karena kamu adalah ayahku. Itulah sebabnya aku tidak bisa bercerita.”

Bagi kita yang pernah remaja, bukankah perilaku si anak adalah perilaku yang sangat normal? Atau, berapa banyakkah dari kita yang memberitahukan segala sesuatu kepada orangtua?

Ketika anak memasuki masa remaja, mata orangtua seakan terbuka untuk melihat bahwa mereka bukan lagi satu-satunya pengaruh dalam hidup anak mereka.

Mungkin ketika mereka masih kecil, kebenaran ini tidak terlalu terasa. Saat itu, kita masih bisa mengabaikannya. Namun, memasuki masa remaja, sebuah notifikasi dari prinsip ini akan terus menerus menyadarkan kita,

bahwa kita (orangtua) bukanlah satu-satunya pengaruh yang dibutuhkan oleh anak kita.

Di masa remaja, anak-anak akan mencari pendapat dan padangan dari tempat lain. Dalam upaya mencari jati diri di tengah dunia yang liar ini, mereka akan berlari mencari hikmat dan pendapat dari berbagai orang, kecuali orangtua.

Pertanyaan untuk kita pikirkan hari ini adalah:

Ketika waktu itu tiba, kepada siapakah anak-anak kita akan berpaling?

Dan, pertanyaan yang lebih penting lagi adalah:

Adakah cara yang bisa kita pakai untuk membangun relasi yang strategis dari sekarang, agar suatu hari nanti anak-anak kita bisa mendapatkan pengaruh yang baik dari orang yang tepat?

Reggie Joiner dan Sarah, putrinya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here