Perjuangan Tenaga Medis

Di sisi lain, ada juga video yang  menunjukkan kebersamaan warga Wuhan yang saling memberikan dukungan dan semangat dengan saling bersahut-sahutan berteriak “Wuhan, Cia Yo!” (“Wuhan, bersemangatlah!”). Selain itu, ada pula video seorang anggota kepolisian Indonesia yang memberikan semangat melalui lagu Mandarin yang dinyanyikannya dan mendapatkan apresiasi dari media di Cina.

Dalam kejadian ini, salah satu pihak yang paling berperan adalah tenaga kesehatan yang berada di garis terdepan untuk merawat dan mengobati pasien yang terjangkit virus mematikan ini. Selama berminggu-minggu mereka berjibaku siang dan malam mencoba mengatasi ganasnya virus yang diduga kuat bersumber dari pasar hewan di Wuhan. Beberapa di antaranya, termasuk dr. Lee Wenliang – salah satu orang pertama yang mengingatkan bahaya virus corona – harus merelakan diri terjangkit virus yang sama dan akhirnya meninggal dunia. Ribuan kilometer dari Cina, seorang wanita mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan ketika dalam perjalanan ke tempat kerjanya.

Peng Cheng Yu, wanita muda di Singapura dijauhi sebagian besar penumpang MRT, bahkan beberapa di antaranya melontarkan kata-kata yang kurang pantas, hanya karena ia mengenakan seragam kerjanya sebagai perawat. Tentu hal ini sangat memprihatinkan. Alih-alih mendapat apresiasi, tenaga kesehatan yang berjuang keras melakukan tugasnya justru mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya.

Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika saya bekerja di sebuah rumah sakit. Mengawali karir sebagai seorang operator telepon dan berlanjut sebagai staf HRD, saya melihat dan mengamati dengan jelas tantangan berat bekerja di rumah sakit.

Hampir setiap kali saya mewawancarai calon karyawan, saya mengatakan kalimat berikut “Bekerja di rumah sakit bukanlah perkara yang mudah. Kita berhadapan dengan orang-orang yang karena kondisinya, terpaksa datang ke sini. Hampir tidak ada orang yang datang ke rumah sakit dengan perasaaan senang dan sukarela, kecuali mereka yang akan melahirkan. Kondisi psikologis mereka sangatlah rentan. Karena itu kita harus bekerja dengan sepenuh hati, melayani dengan sebaik-baiknya. Hati-hati dengan perkataan dan bahasa tubuh kita. Jangankan berbuat salah, tidak tersenyum ketika berhadapan dengan pasien dan keluarganya pun, bisa menjadi masalah. Tetaplah tersenyum, berkata-kata dengan sopan dan tunjukkan empati. Itu akan sangat berarti bagi mereka”.

Apresiasi untuk Mereka yang Berjuang dalam Senyap

Melalui tulisan ini, saya ingin memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk mereka yang bekerja di jasa pelayanan kesehatan. Para perawat dan dokter bekerja dengan risiko dirinya tertular penyakit yang diderita pasien. Tenaga administrasi (front office) yang terkadang harus menerima omelan, makian, dan rentetan pertanyaan mengenai besarnya biaya yang harus dibayar. Rekan-rekan di bagian farmasi yang selalu dituntut ketelitiannya dalam meracik dan memberikan obat kepada pasien. Tenaga kesehatan di bagian laboratorium, radiologi, dan fisioterapi. Juga bagian pantry dan ahli gizi yang sering mendapatkan keluhan karena makanan yang tidak enak.

Kepada semua orang yang terlibat di jasa pelayanan kesehatan, terima kasih untuk kesabaran, hati, dan kasih yang telah kalian curahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here