Di hari pemakaman Beliau, baru saya tahu Beliau lahir di tanggal 4 bulan 4, sama seperti anak bungsu saya! Dalam hati saya berkata pada diri sendiri, suatu hari anak-anak harus mendengar kisah hidup Beliau, seorang Prof. Hari yang rendah hati, pembelajar sejati yang selalu all out, cendekiawan yang bijaksana.

Bu Martha Pratana

Saya berjumpa dengan Beliau karena komunitas Ribut Rukun. Puding kopi Beliau menjadi perekat di pertemuan pertama itu. Tak lama kemudian, sebuah pameran buku besar mampir di Surabaya. Saya dan keluarga sengaja berkunjung di malam hari untuk menghindari kepadatan; pameran buku dengan lambang serigala ini memang dibuka 24 jam non-stop. Tak menyangka berjumpa dengan Bu Martha yang kala itu sedang asyik memilih buku.

Kami akhirnya duduk di bawah panggung yang terletak di tengah hall pameran. Melihat keranjang saya yang penuh buku anak, Beliau kemudian berkisah tentang cara yang diterapkan hingga kedua putri Beliau gemar membaca. “Sediakan buku di mana-mana; di ruang tamu, di kamar, di mobil…buatlah buku ini sesuatu yang mudah dijumpai dan ada dalam jangkauan,” ujarnya.

Pembicaraan kami berlanjut hingga beberapa menit kemudian. Beliau kemudian berkata, “Menjadi Mama itu memang tidak mudah. Tapi seorang Mama itu harus kuat. Tidak ada yang tidak bisa diatasi, semua kesulitan pasti berlalu. Kita perempuan diciptakan luar biasa.”

Setiap perjumpaan dengan Bu Martha pasti meninggalkan bekas yang memotivasi. Sebagai seorang editor senior, Bu Martha tak pernah pelit berbagi pujian. Saya pernah mendapat hadiah buku tulisan Bu Martha di salah satu workshop Ribut Rukun karena menang challenge dari Beliau. Di workshop lainnya, Bu Martha memberi feedback yang mendorong saya menulis lebih baik. Pesan singkat Beliau masih tersimpan di gawai saya; di situ tertulis, “Margie, tulisanmu segar!”

Kabar kepergian Beliau yang disampaikan di grup Whatsapp menyesakkan dada. Weekend sebelumnya saya mengurungkan niat membesuk Bu Martha di rumah sakit karena flu yang masih belum mau pergi. Sudah terencana untuk menjumpai Beliau pada kunjungan ke Surabaya berikutnya. Namun rencana Sang Pemilik Hidup bukanlah rencana kita. Saya bahkan tak dapat menyampaikan salam perpisahan karena terpisah jarak.

“Perempuan itu harus kuat,” pesan yang Beliau nasihatkan hampir di setiap percakapan di antara kami juga dinyatakan dalam perjuangan Beliau melawan sakit yang diderita sampai akhir hayat. Beliau seorang perempuan luar biasa! Seorang guru yang mengajarkan kekuatan lewat kata-kata dan meneladankannya lewat kehidupan!

Om Andre, Prof. Hari, Bu Martha…terima kasih untuk warisan yang begitu berharga! Though you will never step out of 2019, your legacy will be passed through 2020 and beyond!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here