Hope

Dalam keterbatasan pengetahuan dan ketiadaan pengalaman, saya menyimpulkan bahwa tindakan nekat mereka yang melakukan atau mencoba bunuh diri seringnya disebabkan oleh kondisi ketiadaan harapan.

Mungkin mereka merasakan kekosongan begitu rupa. Seakan hidup tidak lagi punya tujuan. Seolah hidup hanya berisi permasalahan, begitu besar dan berat. Tidak ada lagi harapan.

Harapanlah yang membuat kita terus maju, meskipun tak selalu laju, karena kita tahu apa yang dituju.

Bagi saya, HOPE (= harapan) adalah Hold on God’s Promises. Berpegang pada janji-janji Tuhan.

Janji bahwa Tuhan telah menyiapkan tujuan untuk setiap manusia. Dan bahwa tujuan yang Ia siapkan sejak awal itu adalah tujuan yang baik.

Hidup kita punya tujuan. Dan karena itu, masih dan selalu ada harapan. Berpeganglah pada janji Tuhan.

Baca Juga: Saat Harimu Berantakan, Kamu Merasa Berada di Titik Terendah Kehidupan dan Kehilangan Harapan, Satu Pertanyaan Ini Mungkin Bisa Mengubah Keadaan

Beberapa tahun lalu, ketika menjalani proses seleksi, dalam sebuah sesi wawancara saya bertanya pada direktur dan seorang ekspatriat pimpinan perusahaan, “Apa yang perusahaan harapkan dari seorang manajer personalia?”

“I want my employees to be happy!” jawab sang eskpariat.

Sungguh tidak terduga! Saya tidak pernah mendapatkan jawaban seperti itu di perusahaan-perusahaan lain. 

Sebuah jawaban yang sekilas terdengar sederhana tetapi sama sekali tidak mudah untuk diimplementasikan.

Apa itu kebahagiaan? Bagaimana kita bisa mencapainya?

Adik ipar saya meneruskan sebuah postingan di Facebook mengenai hal tersebut.

Jika ketenaran dapat membuat seseorang bahagia, pasti Michael Jackson tidak akan meminum obat tidur setiap malam hingga akhirnya overdosis.

Jika kecantikan bisa membuat seseorang bahagia, Marilyn Monroe – yang kala itu dijuluki sebagai wanita tercantik di dunia – tidak akan meminum alkohol dan obat depresi yang menyebabkan overdosis.

Jika kekayaan dapat membuat seseorang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan dirinya sendiri ke kereta api.

Jika kekuasaan dapat membuat seseorang bahagia, tentu Getulio Vargas, Presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.

Jika kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang kaya akan membeli kebahagiaan itu dan memborongnya sampai habis.

Jika kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain bumi ini akan kosong karena semua orang akan berkumpul di tempat di mana kebahagiaan itu berada.

Ternyata, bahagia atau tidak hidup seseorang itu ditentukan oleh sikap orang itu sendiri.

Sesungguhnya, kebahagiaan ada di hati setiap manusia, mereka yang mensyukuri apa yang telah mereka miliki.

“Seorang pemberani adalah seorang yang berani mengatasi tantangan hidup, bukan seorang yang menyerah terhadap kehidupan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here