3. Pernikahan Bukan Hanya Tentang Mempelai, apalagi Mempelai Perempuan Saja
Mindset penting lain adalah menyadari bahwa acara pernikahan bukan hanya tentang bride. Perempuan biasanya memang lebih antusias dalam mengurus acara pernikahan. Detail yang berkenaan dengan perempuan jauh lebih banyak. Gaun dan sepatu, make up artist dan aksesoris, cat kuku serta skin care sebelum hari H, and the list goes on.
Saya tanpa sadar abai akan hal ini, sampai satu titik di tempat sewa jas, saya mengarahkan Riyan untuk memilih jas abu-abu atau biru. Riyan kemudian menyatakan impiannya untuk memakai jas coklat.
Lalu saya menyadari, acara ini adalah tentang kami berdua, bukan hanya saya. Bahwa mempelai laki-laki pun sangat mungkin punya impiannya sendiri.
Maka dengan kasih dan belajar legowo, saya mengiyakan pilihannya, dan sejak saat itu saya selalu ingat untuk bertanya: “Apalagi impianmu? Ayo kita wujudkan.”
Selain tentang mempelai, acara pernikahan juga tentang orangtua dan keluarga, setidaknya keluarga inti. Ayah mertua saya punya banyak teman di gereja sebab pernah menjadi ketua majelis. Saya kemudian harus berbesar hati kala menyadari bahwa ‘pesta kecil’ kami akan diisi wajah-wajah yang tidak saya kenal karena ratusan orang yang beliau undang. Awalnya itu berat, tetapi saya kembali belajar dan yakin bahwa itu hal yang benar dan mungkin untuk dilaksanakan.






