2. Pernikahan bukan Kompetisi apalagi Ajang Pembuktian Diri

Peringatan: ini akan menjadi poin yang terpanjang.

Salah satu yang paling frustrating dalam hidup zaman now adalah keberadaan media sosial yang kerap memancing rasa iri atau sombong. Tidak luput tentang pernikahan. Hal penting yang harus kita ingat adalah pernikahan jangan sampai jadi ajang kompetisi tak kasat mata dengan orang lain. Selain karena modal masing-masing pasangan juga berbeda, makna indah pernikahan akan terdistraksi banyak sekali jika disempitkan untuk mengalahkan orang lain, apalagi ajang pembuktian diri.

Di awal-awal proses mempersiapkan, saya juga tergoda hal yang sama. Bukan sepenuhnya ingin ‘menang’, tetapi setidaknya ‘sama kerennya’ dengan pernikahan beberapa teman. Alhasil saya sering stres sendiri. Sampai kemudian di akhir Mei saya sadar bahwa yang saya lakukan itu percuma. Saya pun bertekad menjadikan persiapan pernikahan, berlangsungnya pernikahan, dan hidup rumah tangga kelak semua sebagai perjalanan dengan Tuhan.

Berjalan bersama Tuhan bukan hanya tentang menyelesaikan sesuatu, tetapi bagaimana menjalaninya dengan benar. Saya memutuskan banyak detail, maupun memperlakukan keluarga dan vendor, dengan kembali mengingat apakah itu hal yang berkenan kepada Tuhan atau hanya ego dan keinginan saya yang sedang membabi buta.

Prinsip lain yang menurut saya memudahkan dalam mengambil keputusan soal pernikahan adalah mengenal diri baik-baik dan memutuskan sesuatu dengan beralasan. Selain ‘modal’ yang berbeda, setiap pasangan sewajarnya juga punya prioritas yang berbeda.

Bagi saya, fotografer, pilihan bunga, dan tipe acara adalah hal terpenting karena berkenaan dengan “membuat kenangan”; bagi teman saya yang adalah fashion designer, gaun dan all about wardrobe adalah yang utama; bagi kakak ipar saya yang bekerja sebagai pengekspor ikan, menu all first class seafood bagi para tamu adalah prioritas; bagi teman saya yang adalah pemusik, vendor band dan pemilihan lagu akan jadi top priority.

See? Setiap orang punya tipe prioritas yang berbeda dan itu berkaitan dengan selera, pandangan, atau identitas tertentu.

Acara Pernikahan akan lebih enjoy dan tidak menguras hati jika diarahkan untuk express ourself, bukannya impress other people.

Pujian orang akan menjadi bonus dan bukan tujuan, kritikan orang lain akan jadi masukan tetapi bukan alasan mengurangi sukacita. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here