“Maaf Pak Xavier, saya menemui Bapak bukan untuk diberi nasihat atau solusi. Saya hanya ingin bertanya, mengapa saya sulit mengampuni Papa? Saya hanya mohon didoakan,” ujarnya.

Saat merenungkan kembali percakapan saya dengan Cin, saya teringat pertemuan saya denganseorang ibu beberapa hari sebelumnya.

Seperti Cin, ibu ini tidak bisa mengampuni suaminya.

“Bagaimana saya bisa mengampuninya Pak Xavier kalau suami saya tidak pernah sadar kalau dirinya salah dan terus melakukan perzinahan?” begitu alasannya.

Dari percakapan saya dengan gadis remaja dan ibu dua bocah laki-laki ini, saya merenungkan tiga hal.

Pertama, kemerdekaan fisik tidak akan ada artinya tanpa kemerdekaan batin. Apa gunanya kita merdeka secara badani namun terbelenggu secara jiwani?

Kedua, melepaskan pengampunan tidak akan terlaksana kalau kita masih terus-menerus terbelenggu oleh masa lalu. Setiap serpihan kenangan buruk justru akan kembali menusuk hati yang sudah rapuh.

Ketiga, melepaskan pengampunan, meskipun dengan memaksakan diri, membuat kita terlepas dari belenggu itu.

Baca Juga: Jika Memaafkan Perselingkuhan Istri Saja Bukan Perkara Mudah, Bagaimana dengan Menerimanya Kembali Beserta Anak dalam Kandungannya?

Kemerdekaan sejati terjadi saat kita bisa melepaskan pengampunan dan kembali menata hidup kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here