Puncaknya, waktu Mama dipanggil Tuhan
“Kedua kakak saya, sibuk dengan hidup mereka sendiri. Mereka tidak peduli juga dengan Papa. Mereka lebih senang menghabiskan waktu dengan pacar mereka masing-masing. Tinggal saya sendiri.”
“Ketika Mama didiagnosis kanker serviks … ” Cin terbata.
Tangisnya kembali pecah.
“Papa sama sekali tidak mau mengurus Mama. Saya paksa Papa untuk mengantar Mama berobat keluar negeri tetapi ditolaknya mentah-mentah. Urusan bisnis, katanya, tidak bisa ditinggal. Namun, saat gundiknya mau check up rutin ke Singapura, dia mengantarkannya. Saya benar-benar tidak bisa mengampuni Papa saya, Pak Xavier.”
Cin terus menangis. Berlembar-lembar tisu sudah dia habiskan, tetapi air mata masih terus mengalir.
“Puncaknya waktu Mama dipanggil Tuhan …” Cin tidak bisa meneruskan bicaranya. Tangisnya semakin menjadi.
Saya terbawa suasana. Mata saya ikut menggenang.
“Papa memang menangis, tetapi sebentar. Saya tidak tahu apakah dia menangisi Mama atau menangisi dirinya sendiri karena tidak bisa membahagiakan Mama. Namun, belum seminggu meninggalnya Mama, Papa sudah pergi berlibur bersama gundik dan anaknya keluar negeri.”
Konseling siang itu lebih bersifat satu arah. Cin tidak henti-hentinya bercerita. Meskipun tersendat-sendat oleh air mata, ceritanya runtut.
Cin tampak cerdas sekali. Namun, emosinya sungguh-sungguh sedang goncang.






