Saya pernah membaca bahwa kesombongan adalah satu dari tujuh dosa yang membelenggu manusia. Bahkan, Tuhan sangat membenci dosa kesombongan ini.

Sama seperti dosa yang lain, kesombongan ini destruktif sifatnya.

Kecenderungan manusia untuk menganggap dirinya lebih dari sesamanya dapat merangkak naik menyaingi Sang Pencipta.

Merasa mampu dan kuat sehingga Tuhan Sang Pencipta pun dapat diatur semaunya.

Seorang pria yang pernah saya kenal suka sekali memamerkan kemampuannya dalam mendapatkan uang melalui bisnisnya dengan begitu mudahnya. Tidak berhenti di situ, dalam hal berkata-kata dia sering kali membanggakan betapa piawai dirinya untuk mengungguli orang lain dalam bidang yang lain.

Teman-teman yang peduli kepadanya berusaha mengingatkannya. Teman-teman yang sejak semula tidak respect kepadanya, makin menjauhinya. Namun tidak tampak perubahan yang lebih baik dari dirinya. Terakhir saya dengar, dia menderita kerugian puluhan juta rupiah karena diperdaya rekan bisnisnya.

Karena Tuhan membenci dosa kesombongan ini, maka untuk meruntuhkannya, Dia akan merendahkan setiap umat penganut dosa kesombongan.

Caranya? Bisa beragam dan bahkan di luar nalar.

Jadi, sebelum hukuman dijatuhkan, sadari sedari dini tanda-tanda kesombongan, cermati peringatan kasih dari-Nya, dan mohonlah belas pengampunan-Nya.

Baca Juga: Hati-hati Menilai Diri Sendiri, 5 Ciri Kesombongan Ini Nyatanya Kerap Kita Lakukan Tanpa Kita Sadari

2. Gegabah atau Ceroboh

Dibakar rasa dendam kesumat akibat kehilangan sahabat-sahabatnya karena perbuatan Thanos (musuh terbesar Bumi kala itu), Thor langsung menebas kepala Thanos begitu melihatnya. Padahal, sebelumnya sudah ada rencana yang disusun Avengers terhadap Thanos sebelum dihabisi.

Tindakan bodoh yang dilakukan Thor tentu saja mengacaukan dan bahkan merusak seluruh rencana. Tim yang tersisa terpaksa menyusun ulang rencana dari awal dan memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan masalah mereka.

Raja Salomo yang Bijak pernah berkata,

Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.”

Jelas sekali Raja Salomo mengingatkan bahwa sebagai manusia kita memerlukan perencanaan yang matang sebelum mengambil keputusan penting dalam hidup kita.

Dalam penyusunan rencana, tidak ada salahnya jika kita meminta bantuan dari orang-orang yang telah makan asam garam. Masukan yang mereka berikan dapat kita pertimbangkan. Sebaliknya orang yang tergesa-gesa (gegabah) akan salah langkah, mengalami kekurangan, dan kemungkinan dapat berakibat fatal.

Baca Juga: Karena Kita pun (Masih) Melakukan Kebodohan yang Sama. Dari Peristiwa Kecelakaan Tol Cipali, Sebuah Refleksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here