Ketika putus, yang muncul pertama kali reaksi ekspresif
Teman-teman saya menyikapi putusnya hubungan cinta mereka dengan cara berbeda-beda.
Ada yang jadi mudah marah padahal sebelumnya cenderung tenang, menumpahkan kegalauan dan kekecewaan di media sosial – membuat orang yang tadinya tidak tahu jadi tahu soal putusnya huungan mereka -, berniat melakukan pembalasan terhadap mantan, mencaci mantan, menghakimi dan menyalahkan mantan di media sosial.
Saya menyebut reaksi-reaksi itu sebagai emosi yang ekspresif. Reaksi yang amat sangat wajar.
Saya bisa memahami perasaan teman-teman saya. Hati mereka patah. Mereka sedang terluka. Rasa marah, sedih, kecewa, semua bercampur aduk dalam diri mereka.
Karenanya, saya tidak heran ketika seorang teman berpikir untuk merencakan pembalasan karena sakit hati dikhianati kekasihnya. Namun, saya sungguh tersentuh ketika teman itu akhirnya berkata, “Aku tahu, apa yang hendak aku lakukan itu salah.”
Teman saya itu berhasil mengendalikan reaksi ekspresifnya. Ia tidak membiarkan reaksi ekspresif menjadi berlebihan. Ia tidak membiarkan luka hati mengubahnya menjadi pendendam, seorang yang dipenuhi rasa benci yang berlarut-larut.
Keadaan tidak akan berubah, apa pun yang coba ia lakukan.
Menyadari sebuah hal hanya akan membuang waktu tanpa membuat keadaan kita menjadi lebih baik adalah langkah awal untuk bergerak sebelum reaksi ekspresif menjadi berlebihan dan merugikan diri sendiri.






