3. Tidak Hanya tentang Akademis, Anak-anak Harus Mengembangkan Aspek Sosialnya
Saya melihat anak-anak saat ini banyak yang gagap bersosialisasi. Mereka cenderung individualistis. Bukan kesalahan mereka, tetapi memang orangtua yang mengkondisikannya. Anak-anak dituntut belajar terus-menerus dan ditambahi dengan les-les yang membanjiri waktu mereka. Hal tersebut membuat anak-anak jarang bermain bersama dengan teman sebaya mereka, dan mengakibatkan mereka jadi tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Padahal,
untuk menjadi seorang manusia yang utuh, sisi kognitif saja tidak cukup. mereka harus mampu bersosialisasi, karena pada kodratnya manusia adalah makhluk sosial.
4. Setiap Anak Istimewa dan Mempunyai Keunikan Tersendiri
Satu keanehan yang paling sering terjadi pada kita adalah kita memaksa anak-anak untuk bisa segala macam pelajaran yang ada. Misalnya, seorang anak tidak pintar matematika, oleh orangtua justru pelajaran itu yang diberikan les secara khusus. Padahal seharusnya, les tambahan adalah pelajaran yang memang lebih disukai oleh anak-anak.
Anak-anak tidak suka piano, maka jangan berikan les piano, tetapi berikan kepada mereka yang mereka sukai. Permasalahannya, kerap kali orangtua tidak sadar bahwa setiap orang berbeda, bahwa
setiap anak mempunyai kelebihan yang unik yang berbeda satu dengan lainnya.
Satu perkataan yang terkenal tentang ini adalah ikan tidak akan bisa dipaksa untuk memanjat. Kalau dipaksa, maka seumur hidupnya dia akan merasa menjadi yang paling bodoh.
5. Anak-anak bukan Alat Pemuas Ambisi Orangtua
Biasanya, ketika ibu-ibu berkumpul, yang mereka bicarakan adalah prestasi anak-anak mereka.
Ibu A berkata: “Anak saya pelajarannya semua 100. Hanya 1 saja yang 90.”
Ibu B menimpali: “Iya, anak saya tidak saya biarkan main-main saja kayak anak tetangga, sekarang bahasa inggrisnya sudah lancar.”
Ibu C: “Anak saya saat ini les mandarin dan bahasa Inggris. Soalnya masa sekarang penguasaan bahasa Inggris dan Mandarin memang yang paling penting.”
Begitulah kira-kira gambaran besar percakapan orangtua ketika mereka bertemu. Sayangnya, kerap kali anak-anak dipacu sedemikian rupa hanya untuk memuaskan ambisi orangtua, agar mereka dapat dengan bangga menceritakan kepada orangtua yang lain.
Hal yang perlu disadari adalah anak-anak bukan alat pemuas ambisi orangtua. Jika melakukannya, sebenarnya orangtua sedang meniadakan kemanusiaan anak tersebut. Maka,
biarlah anak-anak itu menjadi manusia seutuhnya dengan menjadi diri sendiri.
Baca Juga:
9 Inspirasi Pendidikan Anak bagi Orangtua dari Seri Drama Korea Laris “Sky Castle”






