3. “I love you.” Padahal maksud sebenarnya adalah
“I love you when…”
Cinta yang ketiga ini awalnya berlabuh tenang, setenang sebuah perahu kayu yang berada di tengah laut. Perasaan, yang sangat mudah berubah, akan mengacaukan semuanya.
Orang tipe ini sangat menggantungkan kualitas cintanya dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Ketika ia senang, maka cinta akan mengalir dengan lancar. Ketika ia bete atau marah, maka sisi gelap cintalah yang akan keluar. Satu hari pasangannya akan merasa menjadi sebuah bantal, sedangkan keesokan harinya, sebuah samsak tinju.
Termasuk dalam kelompok ini juga orang yang mendasarkan cinta dengan pengejaran prestasi. Ia hanya bisa mencintai ketika sudah menjadi kaya, sukses, dan terkenal. Oleh karena kepercayaan ini, ia akan menahan untuk memberikan cinta seutuhnya sebelum targetnya tercapai.
Tidak semua kalimat “I love you” itu semanis cokelat yang kamu terima.
Bukankah demikian?
Bila kita ingin mendapatkan cinta yang tulus, cinta yang mengasihi kita apa adanya, cinta yang menghargai segenap keunikan dan kelemahan kita, maka kita perlu jeli dalam menerima sebuah tawaran cinta.
Kembali kepada cerita di salon itu. Setelah mendengarkan obrolan para remaja putri itu, sang stylist yang penasaran pun mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka.
“Kalian dari tadi terus berkata, I love him! I love him! Kalian memuji parasnya dan pakaiannya. Kalian memuji kebiasaannya dan berbagai barang kepunyaannya. Tetapi kalian belum menceritakan satu hal yang amat penting,” ujarnya.
“Permisi bertanya,
apakah sih yang kamu cintai dari dirinya?”
Stylist ini mengajukan pertanyaan yang baik!
Pertanyaan yang bisa kita gunakan ketika seseorang menyatakan cinta kepada kita. Sebelum memberi jawab, ajukanlah pertanyaan yang sama kepada mereka:
“Apakah yang kamu cintai dari diri saya?”
Bila mereka menjawab dengan because/if/when, maka kamu tahu seberapa panjang cerita cinta yang akan kalian tulis bersama.
Saran saya, tulislah sebuah cerita cinta yang cukup berharga untuk diperjuangkan.
Baca Juga:
Buat Apa Pacaran Kalau Ujungnya Cuma Jadi Mantan? Kalau Belum Siap Pacaran, Kenapa Harus Dipaksakan?
Inilah 6 Kondisi Berbahaya dalam Masa Pacaran. Mengalaminya Salah Satunya? Segera Putuskan Hubungan






