Melihat makanan enak muncul nafsu kita untuk makan, lantas kita membeli makanan itu dan melampiaskannya dengan melahapnya. Bagaimana ketika kita melihat wanita muda, cantik plus tubuh yang aduhai? Seperti makanan, bisa saja kita membeli dan melahapnya, bukan?

Keduanya bisa kita kendalikan jika kita berpikir lebih jauh lagi, misalnya apakah hal itu menyehatkan bagi kita, membawa dampak buruk, atau bahkan dapat memicu hal yang lebih besar untuk terjadi?

3. Salah Dalam Bergaul

Seperti gaya hidup, pergaulan dapat memengaruhi arah hidup kita. Jika kita terbiasa bergaul dengan orang-orang yang tidak mementingkan kebenaran dan kejujuran, maka kita yang awalnya baik lama kelamaan bisa menjadi tidak baik.

Sebuah komunitas atau kelompok pergaulan biasanya akan mengikat kita untuk masuk dalam kebiasaannya. Sesuatu yang dilakukan kebanyakan orang pada umumnya, meskipun tidak baik akan menjadi sesuatu yang baik.

Misalnya: berselingkuh itu hal biasa di kalangan pria hidung belang; menjual diri untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi lumrah bagi para penjaja cinta; korupsi di tengah-tengah para koruptor adalah hal biasa, dan lain sebagainya.

“Dua kali saya mencoba membangun rumah tangga, tetapi keduanya gagal terus. Akhirnya jalan ini yang sekarang saya ambil. Bukan pilihan yang baik. Namun, setidaknya inilah yang bisa saya nikmati dan bertahan hingga sekarang ini,” jelasnya sambil membetulkan baju bersiap meninggalkan tempat.

“Terkadang tempat yang sudah enak dan nyaman membuat seseorang enggan melakukan hal yang baru, meskipun hal baru itu membawa kebaikan dan menuju keselamatan.”

Rumah tangga hancur bukan semata faktor dari dalam, melainkan faktor luar yang lebih dahsyat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup berkeluarga. Mengubah gaya hidup dan perilaku setelah berkeluarga sangatlah bijaksana ketimbang tetap mempertahankan jati diri lama kita.

Menyadari bahwa kita tidak lagi sendiri yang dengan gampang mencari solusi. Namun, sadarilah ada pasangan dan anak-anak yang juga punya pandangan serta solusinya sendiri. Karena itu, akibat dan dampak sebuah keputusan haruslah menjadi tanggung jawab bersama. Selamat mencoba.

Baca Juga:

Tidak Cukup Cinta Saja. Rumah Tangga Menjadi Neraka atau Surga, Ini 3 Faktor Penentunya

Reuni Berbahaya bagi Keutuhan Rumah Tangga? Ya, Jika 3 Hal Ini Menyertainya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here