3.Ingat kembali gejala menstruasi pertama yang pertama ibu alami untuk mengamati perilaku anak
Dimulai dari ketika gadis kecil saya memakai ukuran sepatu yang sama dengan ukuran sepatu saya, saatnya telah tiba, gadis kecil saya sedang beranjak dewasa. Dari berbagi sepatu, kami mulai berbagi beberapa baju. Lalu ada tanda-tanda yang kemudian mengikuti dan membuat semakin jelas bahwa sebentar lagi, gadis kecil saya akan masuk dalam masa puber.
Mulai ada tanda-tanda di pakaian dalamnya, payudara mulai menyembul di kaos dalam, bercak seperti yougurt di celana dalam. Rambut-rambut halus di area kewanitaan dan juga di bagian ketiak, lalu mulai ada aroma tubuh yang berbeda bukan aroma keringat biasa saat berlari-lari atau bersepeda. Komedo dan jerawat nakal mulai nongol di wajah mulusnya. Lalu peristiwa itu terjadi, menstruasi pertama.
Tidak banyak, tidak rutin, tapi jelas sekarang, gadis kecilku sudah beranjak dewasa! Dan saya ada disana bukan sekedar ada, saya ada untuk memberi telinga saya mendengarkan dia, mengajar dia apa dan bagaimana, dan menjadikan momen itu berkesan bagi kami, sesama perempuan.
4.Kontrol ketakutan ibu, hindari memberikan pesan keliru pada anak
Begitu banyak ketakutan meliputi hati seorang ibu, karena saya tahu apa artinya puber, berbeda sekali dengan anak perempuan saya yang polos. Dengan enteng gadis kecil saya bercerita tentang cowok yang disukai, nama anak cowok yang suka menggodanya, dengan anak cowok siapa dia sering digoda kedekatannya saat bermain-main dengan mereka. Sentuhan fisik yang wajar menurut dia mendatangkan kengerian dalam hati saya sebagai ibu.
Ketakutan saya dapat dengan mudah dapat memberi pesan yang keliru tentang relasi laki-laki dan perempuan, relasi yang baik yang Tuhan rencanakan bagi manusia ciptaan-Nya. Lalu saya mengambil waktu ‘diam sejenak’ saya merenungkan pesan apa yang sebenarnya yang perlu saya berikan pada anak gadis saya, saya mengontrol ketakutan saya sendiri dan mulai memberi gambaran bagaimana Tuhan menciptakan kita sebagai laki-laki dan perempuan. Bagaimana Tuhan membuat persiapan dalam diri perempuan untuk melahirkan anak-anak jauh sebelum kejadian itu terjadi.
Persiapan ini tidak boleh disalahgunakan, saya menuntunnya untuk menjaga diri, bagaimana berelasi dengan para pria, bagaimana membawa diri. Pembicaraan kami semakin lama-semakin komplit mulai dari urusan berpakaian sampai dengan hubungan seksual. Dengan tenang saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan, untung jantung saya buatan Tuhan, bila buatan pabrik pasti sudah jebol.
5.Bersyukur pada Tuhan karena memiliki anak perempuan
Ah…tidak habis-habisnya saya bersyukur pada Tuhan kerena memberi saya anak perempuan. Kehadiran anak perempuan dalam keluarga sungguh mengingatkan saya bagaimana Tuhan mengasihi saya, membuat keistimewaan dalam diri saya.
Saya teringat satu powerstatement yang pernah saya dengar, “Menjadi ibu itu bukan tentang status kita, tetapi bagaimana kita memainkan fungsi kita”.
Baca Juga:
Tak Hanya Bicara, Orangtua Belajarlah MendengarkanAnak-Anak. Inilah Cara dan Manfaatnya
Satu Hal yang Lebih Penting daripada Memberikan Pelbagai Fasilitas pada Anak






