Bahkan pergumulan ini kubawa dalam doa setiap malam dengan khusuk sambil menangis: “Tuhan, mengapa aku diciptakan seperti ini? Aku tidak mau hidup seperti ini, aku sudah berjuang, tapi tidak bisa. Tuhan, tolong ubah ketertarikan saya ini. Saya sungguh memohon. Aku ingin hidup normal.”

Ya, bertahun-tahun lamanya kulontarkan doa yang sama setiap malam. Mungkin Tuhan sudah bosan mendengar doa saya yang itu-itu saja.

Jadi paham bukan? Tidak ada yang ingin memiliki hidup seperti ini. Namun karena kami tidak bisa mengubah kecenderungan ini, oleh sebab itu kami memilih bertahan. Bertahan sekuat tenaga dengan segala cara, untuk melindungi kerapuhan ini. Tidak jarang hati ini menjadi begitu lelah untuk bersedih. Mata ini bosan untuk meneteskan airmata. Kami memilih untuk tetap tegar menerima kenyataan yang ada.

Satu Permintaan Saya

Jadi sobat-sobatku yang kukasihi, jikalau kalian memiliki teman atau kenalan yang memiliki pergumulan seperti ini, jangalah dihakimi. Mereka sudah cukup banyak menikmati limpahan penghakiman secara langsung maupun tidak langsung.

Penghakiman tidak akan mengubah kecenderungan orang-orang semacam kami. Sebaliknya, penghakiman yang diberikan malah membuat kami melihat bahwa Tuhan yang kamu percaya tidak memiliki kasih.

Terimalah dan kasihilah mereka seperti kamu mengasihi dirimu sendiri. Barangkali dengan penerimaan dan kasih, kami dimampukan untuk tetap bertahan dalam kebenaran ketika harus menggumuli ketertarikan sesama jenis ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here