3. Kamu Dapat Hadiah Apa dari Suamimu?
Seorang wanita baru saja melahirkan. Seminggu kemudian saudara laki-lakinya pun datang mengunjunginya. Di tengah-tengah obrolan mereka, saudara laki-laki itu bertanya, “Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?”
“Tidak ada,” sahut wanita itu pendek.
Tidak percaya, saudara laki-lakinya kembali bertanya, “Masa sih? Apa kamu tidak berharga baginya? Aku bahkan sering memberi istriku
hadiah, walau tanpa alasan yang istimewa”.
Siang itu, ketika suami wanita ini pulang dari kantor, ia menemukan istrinya merajuk di rumah. Tak butuh waktu lama, keduanya terlibat dalam pertengkaran. Sebulan kemudian, suami istri ini pun bercerai. Dari mana sumber masalahnya? Dari kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki-laki kepada adik perempuannya.
Renungkan!
Bukti suami mencintai istrinya tak melulu lewat hadiah. Meskipun terkadang hadiah bisa menjadi bahasa kasih, tetapi melalui sikap hidupnya kita bisa merasakan bahwa suami betul-betul mengasihi kita. Apa gunanya bila suami suka mengumbar hadiah, tetapi ternyata ia didapati berbagi kasih juga kepada wanita lainnya?
Suami saya pun juga jarang memberikan hadiah, entah untuk siapa pun juga. Perkara hadiah lebih sering dipercayakan kepada saya, tetapi bukan berarti dia kurang mencintai saya. Karena terbukti dia amat mencintai saya ketika pelukan dan ciuman tak pernah lupa mendarat di kening saya tiap pagi. Ia pun sanggup menjadi suami siaga dalam mengurus rumah tangga setiap hari tanpa mengeluh.
4. Kok Anakmu Jarang Berkunjung?
Seseorang mengunjungi kakek tua dan bertanya, “Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan?”
Si kakek menjawab, “Sebulan sekali.”
Yang bertanya menimpali, “Wah keterlaluan sekali anak-anak Anda. Di usia senja Anda ini seharusnya mereka mengunjungi lebih sering.”
Mendengarkan komentar itu, si kakek menjadi berkecil hati, padahal tadinya ia tidak mempermasalahkannya. Sekarang ia jadi sering menangis dan ini memperburuk dan kondisi kesehatannya.
Renungkan!
Dalam usia produktif, tuntutan aktivitas cenderung menyita waktu lebih banyak ketimbang pada usia senja. Ketika masih muda, kita punya banyak impian dan target yang ingin diraih, tugas dan tanggung jawab pun makin bertambah. Tak heran bila waktunya banyak dihabiskan untuk menjalankan kewajiban yang harus dilakoni, sehingga waktu untuk berkunjung ke rumah orangtua terpaksa harus diatur sedemikan rupa demi kepentingan bersama.
Bukan perkara egois bila sebagai anak tak selalu mengunjungi orang tuanya, karena memang mungkin banyak faktor yang menghalanginya. Sebagai orangtua hendaknya tetap terus berpikir positif, sembari bergerak aktif melakukan banyak hal yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, agar hidup di usia senja pun tetap bisa memiliki arti.
Akan menjadi pelajaran berharga bagi kita, apabila kita tak langsung menelan mentah-mentah informasi yang diberikan oleh orang lain, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Sebaiknya semua itu dicerna dan direnungkan terlebih dahulu, agar kita makin berhikmat.
Baca Juga:
Ketika “Tabrakan” dalam Relasi Tak Terhindarkan, Ingatlah Satu Hal yang Menyelamatkan Relasi Ini






