3. Sakit penyakit
Bicara hal yang satu ini tentu semua pernah mengalami. Termasuk saya. Mungkin saat sakit penyakit hadir di dalam hidup pernikahan kita, tubuh kita pun menjadi terus terpacu untuk mengurus siapa yang sakit. Kita butuh tenaga ekstra untuk bekerja, mengasuh anak, mengurus yang sakit. Kita pun menjadi lemah dan ingin menjerit lelah. Tekanan bertubi-tubi hadir tanpa kita sadari dan kita bisa saja ingin marah. Kita mengasihani diri dan menyalahkan keadaan. Jauh dari bersyukur.
Bicara soal sakit, pasangan hidup saya juga punya penyakit. Konon hanya Tuhan yang bisa menyembuhkannya. Intinya saat penyakit itu kambuh, jangankan tempat tidur bergerak, tersenggol saja bagian tubuh yang sakit sudah membuat dia teriak kesakitan.
Bisa dibayangkan jika tulang tak ada pelumas, saat bergerak sakitnya luar biasa bukan? Nah, ada momen dimana saya harus menjemput dia di kantor, membawakan tas kerjanya yang berat dan berjalan kaki memapahnya dengan jalan naik turun mencari bus untuk kami pulang ke rumah. Maklum, tak ada sanak saudara atau teman yang bisa diandalkan saat itu.
Jadi harus mengalah dengan besar hati. Alasannya? Ya, karena saya telah memilihnya menjadi suami. Mengapa harus ribut saat sakit penyakit itu datang?
Bukankah cinta itu lebih besar dari pada penyakit itu sendiri? Share on X
4. CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali)
Untuk yang satu ini sudah sering dibahas. Memang sosial media mudah sekali mempertemukan kita dengan mantan, teman-teman sekolah, dan orang-orang yang pernah hadir di dalam lembaran buku hidup kita. Sayapun beberapa waktu lalu menjadi bagian dari grup WA teman-teman SMP. Luar biasa, teman yang belasan bahkan puluhan tahun tak bertemu bisa berinteraksi kembal dengan hangat.
Untuk mencegah adanya konflik yang tak perlu, maka keterbukaan menjadi kuncinya. Setidaknya pasangan tahu dan kita pun tak mencoba menutup-nutupi percakapan dengan teman-teman ataupun mantan-mantan kita. Hiduplah bijaksana.
Berteman tentu saja boleh, namun setialah untuk tak berpindah ke lain hati. Share on XBill Keane menulis demikian,” Yesterday is history, tomorrow is mystery and today is a gift of God, which is why we call it the present.”
Hindari keributan yang tak perlu. Gandeng saja tangannya, dan bersyukurlah senantiasa. Hidup akan jadi lebih indah bukan?
Baca Juga:
- Asal Tahu Cara Menyiasatinya, Konflik Malah Bisa Menguatkan Hubungan. Lakukan Ini saat Menghadapi Konflik dengan Pasangan
- Tidak Cukup Cinta Saja. Rumah Tangga Menjadi Neraka atau Surga, Ini 3 Faktor Penentunya






