Suaminya keren ya, walau sudah usia tapi masih terlihat gagah. Beda banget sama suamiku yang cuek sama penampilan.

Suaminya perhatian banget ya sama keluarga. Selalu ada waktu buat istri dan anak-anak. Kalau suamiku sih yang penting kerjaan dan hobi. Mana ada waktu buat keluarga.

Enak kali ya, pulang kerja disambut istri dengan senyuman kayak si Anton.”

Istrinya pinter banget ngatur rumah tangga. Meski Adi pendapatannya ga gede tapi keluarganya tetap tercukupi tuh. Kalo istriku bisanya cuman nodong uang belanja aja.

 

Berapa sering kita mendengar ungkapan–ungkapan seperti di atas? Atau justru kita sendiri yang pernah atau malah sering mengatakannya?

Dalam kehidupan rumah tangga, sebenarnya masalah terbesar bukanlah hadirnya pihak ketiga, entah ‘pelakor’ (perebut laki orang) atau ‘pebinor’ (perebut bini orang). Mereka itu hanyalah sebuah akibat kurangnya satu hal yang penting dalam pernikahan.

Satu hal yang penting itu adalah tindakan membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain, karena kurangnya rasa syukur.

Ketika sebelum menikah, kita boleh dan bahkan dianjurkan untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya agar salah pilih. Setelah mengucap janji setia di depan keluarga dan orang–orang terdekat, sesuai saran beberapa orang, kita harus menggunakan kacamata kuda.  Tidak boleh lagi lirik-lirik pria atau wanita lainnya. Apapun hal yang kita lihat dan alami dari pasangan adalah pilihan kita, maka terimalah dengan rasa syukur.

Pernikahan ibarat permainan Roller Coaster. Sekali sabuk terpasang dan kereta mulai berjalan, kita tidak bisa melepaskan diri darinya.

Ada kalanya kereta berjalan pelan, ada kalanya meluncur cepat. Ada kalanya kereta ada di puncak, tapi kemudian turun dengan tiba-tiba. Tidak peduli kita tertawa, berteriak, menangis atau bahkan sampai muntah, sebelum kereta berhenti, kita tidak bisa turun. Inilah gambaran komitmen seumur hidup yang perlu ada dalam pernikahan.

Jika suami bisa bersyukur memiliki istri yang tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak, mereka tidak akan membandingkan dengan wanita karir di luar sana.

Jika istri bisa bersyukur dengan penghasilan suami yang 10 koma alias sesudah tanggal sepuluh kondisi keuangan seperti orang yang koma, maka tak akan muncul perbandingan.

Setiap rumah tangga memiliki tawa dan airmatanya sendiri. Lebih baik mengucap syukur untuk apa yang sudah kita miliki daripada mengeluh untuk hal-hal yang tak kita punya. Click To Tweet

Sebab ada kuasa di dalam pengucapan syukur!

 

Baca Juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here