Kelemahan pasangan adalah sesuatu yang sering kali memancing pertengkaran. Api pertikaian biasanya terpantik ketika pasangan mulai mengkritik.
Sungguh aneh tapi nyata. Setiap orang yang masuk ke pernikahan sadar bahwa tidak ada pasangan yang sempurna, tetapi pada kenyataannya ia tetap gusar dan menikam pasangan dengan kritik tajam untuk kekurangannya.
Hal ini membuktikan bahwa
bahkan pengetahuan yang kita miliki tidak mampu membuat kita menjadi pasangan yang baik dan yang bisa bersikap harmonis.
Keterampilan untuk berespons secara tepat terhadap kekurangan pasangan akan memampukan kita membangun suasana harmonis dalam rumah tangga.
Setiap orang yang menikah perlu berlatih berpikir kritis untuk mencari solusi terhadap kekurangan pasangan yang paling tidak ia sukai, dan bukannya malah mengkritisi.
Seorang suami sangat kesal pada kebiasaan istrinya yang selalu lupa mematikan lampu kamar mandi di malam hari menjelang tidur. Masalahnya, istrinya selalu tidur lebih malam dari dirinya. Ia menyadari kritik dan protesnya selama ini tidak membuahkan apa-apa, malah menimbulkan sikap gugup pada istrinya. Akhirnya, ia membeli sebuah lampu otomatis. Sejak saat itu, setiap malam lampu tersebut tidak pernah lupa mematikan dirinya sendiri begitu sang istri selesai menggunakan kamar mandi.
Ada cerita lain. Seorang istri merasa kerepotan dengan kebutuhan suaminya yang gemar curhat kepadanya melalui telepon setiap kali sang suami bertugas di luar kota. Si istri tidak mampu memegang telepon sambil memasak ataupun melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Padahal, makanan harus siap sebelum anak-anak mereka pulang dari sekolah. Ia enggan memakai earphone karena takut kabelnya menyangkut di mana-mana seiring dengan gerakannya yang harus gesit itu. Namun, ia tidak ingin mengkritisi suaminya. Otaknya berputar mencari solusi. Aha! Ia pun mendapatkan jalan keluar: membeli wireless earphone.
Tiga hal di atas patut dilakukan secara imbang oleh pasangan, suami maupun istri. Jika hanya satu yang terus mengalah terus selama bertahun-tahun, efeknya akan buruk bagi pihak yang terlalu lama mengalah dan berjuang sendirian.
Karena pernikahan adalah keputusan dua insan, maka keduanya patut berjuang dengan sama tekunnya untuk menciptakan hidup pernikahan happily ever after, yang tak sekadar ada di dalam dongeng.