2. Lebih Banyak Mendengar dan Mencari Keteduhan di dalam Doa

Manusia hanya butuh sekitar tiga tahun untuk belajar berbicara, tetapi butuh puluhan tahun untuk belajar menahan diri dari berbicara, demi bisa mendengarkan.

Tuhan menciptakan kita dengan jumlah telinga dua kali lipat jumlah mulut bukan tanpa maksud. Dia ingin manusia hidup dalam damai sejahtera.
Ketenteraman dan keharmonisan nyata ketika sepasang suami-istri bersedia secara konsisten untuk lebih banyak mendengarkan saat pasangannya sedang bicara serta tidak ngotot berceramah panjang lebar kepada pasangan. Pertengkaran menjadi panjang karena setiap pribadi hanya mau berbicara keras dan tajam tanpa ada kemauan untuk mendengarkan.

 

Monika adalah seorang wanita biasa yang memiliki suami yang temperamental. Beberapa kali Monika mendapati suaminya tidak setia. Monika memiliki strategi yang hebat. Setiap kali suaminya mengamuk, Monika tidak menjawab. Ia memilih diam dan mendengarkan. Setelah itu, ia masuk ke kamar dan berdoa untuk suaminya.
Sikap Monika awalnya mendapat cibiran dari sang suami dan juga dari ibu mertua yang sifatnya tidak jauh berbeda dari putranya. Namun, lama kelamaan, justru Monika menerima respek dari suaminya karena sikapnya yang mendengar dan tidak membalas. Bukan hanya itu, Monika juga mendapatkan respek dari anaknya yang awalnya memberontak karena kondisi keluarga. Anak Monika kemudian bertumbuh dan menjadi seorang filsuf terkenal bernama Agustinus.
Diam itu emas. Emas pun diam. Ia tak perlu pengeras suara untuk memberitahu seluruh dunia bahwa dirinya emas.

Bukan berarti kalah, diam dan mendengarkan adalah langkah awal memenangkan hati pasangan.

Baca Juga: Diselingkuhi dan Disakiti Berkali-kali, Perempuan Ini Melakukan Segalanya untuk Mempertahankan Pernikahan. Tak Disangka, Ternyata Ini Alasannya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here