Setelah memasuki pernikahan, saya pribadi mengalami begitu banyak gelombang besar dan badai yang harus dihadapi bersama pasangan. Tak jarang, semua berujung pada perselisihan.

Hampir menyerah! Itu yang berulang kali saya alami. Malu tak terhindarkan.

Akan tetapi, komitmen di hadapan altar memegang teguh tangan ini untuk tidak melepaskan dia yang telah diberikan Tuhan sebagai hadiah seumur hidup kepada saya.

Dengan kembali mengingat kehidupan sang pembimbing yang sudah berjalan langgeng selama puluhan tahun bersama pasangannya, saya belajar bahwa

pasangan-pasangan yang kuat dan harmonis bukanlah mereka yang tak pernah menghadapi badai dalam relasi,  tetapi yang mampu bertahan melampaui badai tanpa harus “melemparkan” pasangan ke laut demi menyelamatkan diri sendiri.

Di antara peluh dan air mata, cukup banyak juga momen-momen indah yang dihasilkan dari usaha mencegah maupun menghentikan api pertengkaran. Usaha yang dilakukan untuk menghasilkan momen itu yang saya yakini patut dipertahankan dan dibuat konsisten untuk mengusir api perselisihan pergi jauh-jauh dari kehidupan pernikahan.

 

1. Saling Mengalah Itu Indah

Di sebuah desa, hidup sepasang suami-istri sederhana. Sang istri senang memelihara rambutnya hingga panjang. Sementara sang suami begitu bangga dengan arloji emas yang berhasil dibelinya sejak masih lajang.

 

Sang istri berkata pada suaminya, “Alangkah cantiknya rambutku bila dikonde dan diberi jepit rambut emas.” 
Sang suami menjawab, “Tapi kita belum punya uang, Ma.”
Suatu hari suaminya pulang dengan muka pucat dan berkata, “Salah satu rantai arlojiku putus di tengah jalan, dan aku tak berhasil menemukannya.”
Sang Istri menjawab, “Tapi kita belum punya cukup uang untuk membeli gantinya, Pa.”

 

Di hari Valentine, sang suami pulang bekerja dengan wajah cerah. Ia membawa sekotak kado terbungkus rapi. Kotak itu berisi jepit konde emas, hasil penjualan arloji emas kesayangannya. Begitu melihat istrinya, sang suami terpana. Sang istri telah memotong rambut panjang kesayangannya. Kini berambut pendek di atas bahu, sang istri menyerahkan sebuah kotak kecil terbungkus cantik pula. Isinya, seuntai rantai jam emas.
Mereka pun kemudian tertawa dan saling berpelukan, memegang hadiah masing-masing yang kini tak lagi bisa terpakai.
Rasa cinta bertumbuh makin kuat karena masing-masing rela mengalah, mengorbankan keinginan pribadi demi pasangan.
Bukankah salah satu penyebab yang paling sering menimbulkan pertikaian di antara pasangan suami-istri adalah karena

masing-masing pihak tak ada yang bersedia mengalah. Baik istri maupun suami ingin agar dirinya menjadi prioritas dalam rumah tangga.

Saat keinginannya tak terpenuhi maka berbagai tuduhan dan pelampiasan emosi lantas ditembakkan kepada pasangan.
Sekiranya ada satu saja pihak yang mengalah, pertikaian akan terhindarkan. Namun, ketika kedua-duanya rela mengalah, bukan saja luput dari pertikaian, rumah-tangga bahkan akan terasa bagaikan Firdaus yang begitu sejuk dan menentramkan.

Baca Juga: Bukan Kita yang Bertanggung Jawab atas Perasaan Pasangan. Mengabaikan, Terkadang adalah Pilihan Terbijak yang Bisa Membuat Hubungan Bertahan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here