2. Meremehkan Hal-hal Sepele

Cara-cara berpolitik anak tidak bisa dianggap enteng; mereka bisa dua atau tiga langkah lebih maju dibanding kita sebagai orang tua.

Apalagi dengan kecanggihan teknologi sekarang ini. Jangan heran jika anak lebih suka mencari kesenangan, merasa dihargai, diperhatikan dan dimengerti justru saat berada di luar rumah.
Orang tua bisa saja merasa anak mereka baik-baik saja, tidak ada masalah. Apalagi bagi orang tua yang sibuk dengan urusan sendiri, dengan pekerjaan atau bisnis. Tak dapat dimungkiri, waktu berkualitas bersama anak menjadi sangat minim.

 

Cara orang tua memberi perhatian akan menentukan kualitas hubungan orang tua dengan anak.

Jika sejak kecil anak dididik secara over protective, dilarang tanpa diberi penjelasan, atau hanya dituruti keinginannya tanpa diberi pengertian manakah yang bermanfaat dan mana yang tidak, maka saat menginjak dewasa, anak cenderung tidak punya daya juang menghadapi persoalan kehidupan.
Orang tua memang tidak bisa mengendalikan kehidupan anak. Namun, orang tua bisa menanamkan nilai-nilai kebenaran sedari kecil.
Jangan hanya bisa memarahi saat anak melakukan kesalahan, menghukum saat anak berperilaku tidak baik, tetapi masuki pikiran melalui perilaku dan kegiatan-kegiatan anak. Sekali lagi, masalah pendampingan yang tampaknya sepele sangatlah penting.

Baca Juga: Maaf Kakimu Harus Sakit, Nak. Hidup Memang Tidak Selalu Nyaman dan Mama Harus Mengajarmu Bagaimana Berjuang

 

 

3. Menempatkan Masing-masing pada Fungsinya

Bagaimanapun, selama anak belum bisa mandiri maka orang tualah yang harus menjadi pengendali.
Agar fungsi itu terwujud,

orang tua harus meng-upgrade diri agar menjadi orang tua yang up to date bagi anak-anak kita, kalau tidak mau ‘dikerjai’ oleh anak-anak pintar zaman ini.

Anak adalah apa yang dilakukan orang tua. Perilaku orang tua menjadi contoh, panutan langsung anak. Sulit mengubah perilaku anak jika orang tua sendiri berkelakuan tidak baik.
Tempatkan anak pada fungsinya, sebagai anak. Anak bukan bos yang harus selalu kita turuti, bukan pula bayi yang tidak mengerti apa-apa. Mereka sebenarnya banyak tahu, mungkin malah lebih tahu dari kita, hanya belum punya cukup banyak pengalaman dan pemahaman.
Orang tua adalah pelindung sekaligus pendidik bagi anak. Tanggung jawabnya tidak sebatas mencukupi anak secara materi. Ibarat matahari, orang tua harus memancarkan sinar yang memberi pertumbuhan. Dari kelakuan di rumah sampai di sekolah, dari kelakuan di lingkungan tetangga hingga di tempat umum, hal-hal kecil hingga besar, semua tak boleh luput dari bidikan orang tua.

 

 

Kembali ke cerita makan malam di atas.

Ternyata CCTV yang terpasang di pojok ruang restoran itu tidak berfungsi. Makin ruwetlah masalahnya!

Akhirnya, istri saya yang lebih ahli dalam hal ini menjelaskan rentetan kejadiannya. Tidak hanya itu, ia juga menasihati orang tua dan anak itu supaya bisa menjaga kelakuan mereka agar tidak merugikan orang lain. Semoga istri saya berhasil!

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here