1. Awasi Pergaulan Anak
Dua faktor yang membuat seorang anak menjadi kecanduan pornografi hari ini adalah lingkungan atau teman-teman dan internet.
Kecanduan pornografi pada anak berakar pada satu masalah yaitu kurangnya peran orang tua sebagai pengawas dan pemerhati tumbuh kembang anak.
Orang tua kadang terlalu sibuk dengan urusan ‘orang dewasa’ sehingga berpikir bahwa anak mereka dengan sendirinya akan bertumbuh dengan baik dan tidak akan terpengaruh dengan hal-hal yang buruk.
Pengawasan merupakan hal penting bagi pertumbuhan karakter atau diri seorang anak. Pengawasan tidak sama dengan menutup sama sekali ruang berekspresi seorang anak. Melainkan menjadi teman seperjalanan bagi anak untuk dapat menilai dunia yang ‘rusak’ ini dengan cermat.
Orang tua perlu mengetahui dengan siapa anak mereka berteman. Orang tua harus menolong anak untuk memilih teman yang baik dan benar. Tidak memilih-milih kawan, itu baik. Tetapi tidak menilai kawan, itu berbahaya!
Seorang anak perlu diarahkan untuk mengenal tentang pengaruh-pengaruh buruk yang bisa datang melalui teman sebayanya. Seorang bijak mengatakan,
“Tunjukkanlah temanmu kepadaku, dan aku akan tunjukkan masa depanmu.”
2. Awasi Aktivitas Internet Anak
Internet adalah dunia tanpa batas. Dunia maya berisi informasi, mengenai apa saja, tanpa penyaringan. Semua informasi ditampung oleh internet. Entah baik atau buruk, tidak ada batasan. Mulai dari berita penting tentang kehidupan bangsa-bangsa hingga tutorial menyerut pensil, ditampung di sana. Ini bisa jadi baik, bisa juga buruk.
Anak-anak yang hidup di zaman ini adalah anak yang tidak dapat dilepaskan dari internet. Internet seolah taman bermain untuk anak-anak masa kini. Di sana ia bisa berjumpa dengan apa pun tanpa pernah tahu baik-buruknya. Maka itu, seorang anak perlu ditemani ketika sedang bermain di taman bermain maya itu.
Konten apa yang ia cari, situs apa yang ia temukan, dengan siapa ia berkomunikasi, semua harus diawasi dan diarahkan agar ia tidak terjebak di situasi dan kondisi yang salah.
Seorang anak pernah menjadi korban pemerasan karena terjebak di sebuah situs terlarang di internet. Di situs itu ia berkenalan dengan seseorang. Orang yang baru dikenalnya itu kemudian mengajaknya melihat sebuah tayangan porno. Anak itu tidak menyadari bahwa situs itu merekam wajahnya saat sedang menonton tayangan itu. Rekaman itu kemudian dijadikan senjata. Ia dipaksa untuk membayar sejumlah uang jika tidak ingin gambarnya menyebar di media sosial.
Baca Juga: Relasi Keluarga Nyata dalam Kelindan Dunia Maya: Review Film “Searching” [Major Spoiler Alert]
3. Pendidikan Seks
Kita perlu mendidik anak-anak kita untuk memahami seks dengan benar. Jangan menjadikan seks sebuah topik yang tabu untuk dibicarakan. Seks adalah anugerah Tuhan kepada manusia.
Craig Cabaniss mengatakan,
“Tuhan menciptakan seks untuk dinikmati dalam pernikahan. Kita mengagungkan seks dan Tuhan dengan mensyukurinya; kita merendahkan Tuhan dan seks dengan menjadikannya lelucon.”
Seks adalah sesuatu yang sifatnya suci dan perlu dipahami dengan benar. Jika seks dibicarakan secara vulgar, lucu apalagi jorok, itu adalah bentuk penghinaan terhadap Tuhan yang menciptakan seks.
Menonton video porno dengan dikuasi nafsu karenanya juga merupakan sebuah bentuk penyalahgunaan seks. Pornografi menyebabkan seseorang melihat orang lain sebagai objek seksual belaka. Pola pikir seperti ini mendorongnya untuk memuaskan nafsu dengan cara-cara yang tidak sepatutnya. Seks di luar pernikahan, misalnya. Lebih dari sekadar perendahan terhadap kemanusiaan, itu adalah penghinaan pada Tuhan.
Seorang anak perlu diajari dan dibimbing untuk melihat esensi seks dan pernikahan dengan benar.
Jika seorang anak telah telanjur menjadi pecandu pornografi, membawanya ke psikolog untuk mendapatkan pertolongan adalah langkah yang bijak.
Jangan pernah berpikir bahwa kecanduan pornografi adalah sebuah masalah kecil. Itu masalah besar yang berpengaruh pada masa depan anak. Akan jadi apa seorang anak jika isi otaknya seks dan hanya seks?






