Obat yang dimasukkan secara oral tidak bisa bekerja dengan baik melawan virus di tubuh anak saya. Panasnya makin tinggi dan tubuhnya makin lemas. Dokter memberi ultimatum, infus harus dipasang kembali agar obat bisa dimasukkan via injeksi. Barulah kami setuju.
Seandainya, kami menuruti dokter sejak awal untuk memasangkan kembali infus, mungkin anak saya sudah bisa diberi obat dengan tepat sejak awal. Seandainya, rasa tak tega kami tidak mengalahkan akal sehat kami dalam membuat keputusan, mungkin hari ini kami sudah bisa pulang ke rumah.
Dokter yang sudah kita percayai, sudah pasti menguasai bidangnya. Tidak perlu takut untuk mengikuti keputusan mereka. Mereka juga tidak akan memaksakan tindakan kepada kita, setiap keputusan akan kembali lagi pada kita. Apakah kita mau cepat sembuh dengan mengikuti anjuran atau tidak.
Baca Juga: Menemani Anak yang Diopname, Bermalam di Rumah Sakit – Day 3: A Mother’s Word
Ketiga: Sehat itu Mahal Harganya
Percaya atau tidak, kesehatan itu ternyata mahal sekali harganya. Untuk merawat putri kecil kami saja, kami menghabiskan uang sekitar 20 juta. Padahal ketika sehat, kita cenderung meremehkan kesehatan. Ketika sakit, barulah menyesal. Mengapa ketika masih sehat, kesehatan ini tidak dijaga?
Jangan meremehkan kesehatan tubuh Anda atau putra putri Anda, kalau bisa jangan sampai jatuh sakit. Makan yang teratur dan bergizi, istirahat yang cukup, jaga kebersihan tubuh.
Percayalah, ketika sakit, bukan main menyesalnya.
Sungguh saya bersyukur karena di hari kelima ini anak saya sudah tidak lagi demam. Pertanda virusnya sudah makin lemah. Hasil cek darah juga menunjukkan angka yang cukup baik sehingga esok kami sudah bisa pulang ke rumah kembali.
Tidak ada yang lebih nyaman daripada rumah sendiri. Tidak ada pelajaran yang lebih berharga dibandingkan pengalaman pribadi.






