“Ia mengajakku ke tempat itu. Apakah ia menganggapku perempuan yang bisa diajak seperti itu?” begitu cerita seorang teman kepada saya.

Ada seorang pria yang mengajaknya pergi ke tempat hiburan yang tak pantas untuk mereka kunjungi bersama. Menyakitkan rasanya menghadapi kenyataan bahwa kebanyakan orang menilai negatif perempuan yang berstatus ‘janda’.

Sudah lima tahun teman saya ini menjadi seorang single parent. Ia harus bertahan dengan keempat anaknya setelah suaminya meninggal.

Seorang teman lain terpaksa bercerai karena suaminya tak mau bertobat dari keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang. Selain tak pernah dicukupi kebutuhannya, ia harus hidup dalam tekanan, kehilangan harta, kehilangan teman, bahkan membahayakan dirinya sendiri karena suaminya suka ‘jajan’ dan pernah tertular penyakit menular.

Tak seorang perempuan pun saat menikah ingin menjadi janda. Entah karena pasangannya meninggal, ataupun karena bercerai. Menjadi seorang janda bukanlah sebuah harapan, tetapi sebuah keadaan. Yang dengan sangat terpaksa harus diterima.

 

Saya sering mendengar dan melihat orang bersikap mencibir atau berprasangka negatif saat mengetahui keadaan atau status seseorang. Bukan berarti semua perempuan yang berstatus janda itu buruk. Sayangnya, ulah beberapa oknum akhirnya membuat banyak orang langsung berpikiran negatif saat mendengar kata ‘janda’, terutama jika perempuan tersebut masih muda dan cantik.

Daripada menghakimi perempuan yang bersatus janda, akan lebih baik jika kita punya empati terhadap mereka. Pernahkah kita membayangkan betapa sakitnya perasaan mereka ketika menyandang status itu?

Bagi yang suaminya meninggal, pasti sulit untuk menerima kenyataan, pahitnya kehilangan. Tidak ada orang yang siap untuk sebuah kehilangan.

Hal sama juga dirasakan perempuan yang mengalami perceraian. Mereka juga harus menanggung malu, menjadi bahan pembicaraan orang, bahkan kadang fitnah. Perpisahan bukanlah hal yang diharapkan oleh siapa saja yang memasuki gerbang pernikahan.

 

Setiap orang pasti punya masalah di dalam hidupnya, yang mungkin tak dapat dirasakan oleh orang lain yang tidak pernah mengalaminya. Akan tetapi, untuk soal ini, saya pernah melihat dan merasakannya sendiri.

Sebagai anak yang pernah merasakan perpisahan orang tua, saya menyaksikan sendiri perjuangan ibu saya. Bagi saya, beliau adalah perempuan hebat!

Jangan pernah meremehkan seorang janda, mereka lebih kuat dari yang kita bayangkan. Jika pun hendak memberi penilaian, jangan karena statusnya, namun bagaimana sikap hidupnya.

Jangan menyamaratakan semua janda itu negatif. Bahkan terkadang mereka bisa lebih baik dari perempuan yang masih berstatus istri orang.

Bagaimana bisa begitu?

 

Seorang perempuan yang masih memiliki suami dapat membagi tanggung jawab dan kewajiban dengan suaminya. Berbeda dengan seorang janda, yang harus berjuang sendiri untuk menghidupi diri dan anak-anaknya.

Saat saya kecil, setiap pagi ibu saya mengurus segala keperluan kami hingga mengantar kami ke sekolah. Saat kami di sekolah, ibu bekerja. Ada masanya kami pulang dengan antar jemput langganan, tapi pernah juga ada masa di mana ibu saya yang menjemput dan setelah itu kami ikut bekerja. Tak jarang kami harus ikut dengannya sampai malam.

Itu adalah momen-momen paling indah dan paling kami nikmati. Beliau tak pernah mengeluh. Setiap rasa lelah, mungkin juga malu, dan khawatir ditelannya sendiri. Ia berjuang yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan kami sebagai anak juga tak pernah merasa kekurangan perhatian dan kasih sayang.

Seorang perempuan single parent setiap hari pasti mengurus kebutuhan anak-anaknya. Mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur pada malam hari. Sekalipun mungkin ada asisten rumah tangga yang membantu, seorang ibu yang bertanggung jawab pasti tak akan membiarkan anaknya diurus oleh orang lain. Mulai dari urusan rumah tangga, sampai bekerja mencari nafkah, semua dilakukannya sendiri.

Dalam menjalankan peran dalam keluarga, seorang janda juga harus bisa mengisi peran ganda, sebagai ayah dan ibu sekaligus.

Bukan hal yang mudah,

karena seorang perempuan tak pernah menjadi laki-laki. Click To Tweet

Ia juga harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Tak hanya kebutuhan finansial, ada kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang juga harus terpenuhi. Semakin banyak anak yang dimiliki, tentu juga akan semakin kompleks tantangan yang dihadapi.

 

Status sebagai istri ataupun janda bukanlah ukuran untuk menilai seseorang baik atau tidak. Itu semua kembali kepada karakter dan kepribadian masing-masing, bagaimana bersikap dan membawa diri.

Status tidak menentukan seperti apa diri kita. Kita dihargai bukan karena status, namun karena karakter yang ada di dalam diri yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Click To Tweet

 

Tak perlu pusing dengan penilaian orang-orang yang tidak mengenal Anda. Lebih penting adalah penilaian orang-orang yang mengenal Anda dengan baik, karena merekalah yang tahu siapa Anda yang sebenarnya.

Rasa kesepian mungkin bisa saja datang, namun ingatlah bahwa masih banyak orang-orang yang mengasihi Anda.

Siapa pun dan di mana pun Anda berada, jika Anda adalah seorang janda, mau menjadi janda yang seperti apakah Anda? Pilihannya ada di tangan Anda sendiri.

Banyak perempuan mengalami hal yang serupa dengan Anda. Tak perlu malu, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan diri sendiri. Jangan biarkan status menentukan ke mana arah hidup Anda, tapi biarlah karakter Anda yang menuntun ke masa depan yang terbaik.

 

Anda adalah perempuan hebat!!

 

Yang terpenting adalah teruslah melangkah menghadapi masa depan. Bagi yang memiliki anak, fokuslah pada masa depan anak-anak, mereka adalah berkat yang luar biasa yang Anda miliki. Saat Anda memilih bersyukur akan apa yang Anda miliki, hidup akan terasa lebih indah.

Dan bagi Anda yang memiliki orang terkasih yang berstatus janda, mungkin Anda bisa membagikan tulisan ini untuknya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here