School bullying. Saat saya SD, istilah ini belum seterkenal sekarang. School bullying atau perundungan di sekolah tampil dalam beberapa wujud. Di antaranya ejekan-ejekan yang dapat merendahkan hati dan kepercayaan diri seseorang.

Sewaktu itu, saya mengenyam Sekolah Dasar di salah satu lembaga pendidikan Kristen terbaik di Surabaya. Setelah menghabiskan waktu belajar di sekolah, biasanya saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan les lain hingga sore hari. Kurang lebih demikianlah aktifitas saya selama tiga tahun terakhir di SD tersebut.

Ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997, saya tak dapat melanjutkan SMP di lembaga yang sama. Lalu saya masuk ke SMP negeri, bukan sebuah SMP favorit di Surabaya, bahkan letaknya tak banyak orang yang tahu karena memang tertutup sebuah lahan luas yang terbengkalai. Masa SMP tersebut saya belajar banyak hal. Belajar nakal, belajar menyontek, belajar berantem, dan pelbagai hal negatif lain yang tak saya temui pada saat SD.

Tiga tahun belajar di SMP tersebut membuat saya begitu fasih memberikan sebuah kata imbuhan khas suroboyo-an dalam kalimat yang saya ucapkan. Sebuah kata yang terdiri dari tiga huruf yang hanya bisa dimengerti artinya dengan baik oleh orang Surabaya. Ketika menginjak kelas 2 SMA, saya mempunyai keinginan untuk menghentikan kebiasaan jelek saya itu. Memang bagi orang Surabaya kata itu sudah biasa didengar dan diucapkan, tetapi saya yakin bagi mereka yang jarang mendengarnya, kata imbuhan itu bisa menyakitkan.

 

 

Bukan Hal yang Mudah

Ya, bukan hal yang mudah! Bahkan hanya sekadar untuk mengerem mulut saya sendiri saat itu. Gaya bicara yang cepat, ceplas-ceplos, dan apa adanya, membuat saya kesulitan menahan kata itu terlepas dari bibir saya. Bagi saya, lebih mudah untuk mengerjakan soal kimia daripada harus menahan satu kata itu keluar di setiap kalimat yang saya ucapkan.

Memang mengendalikan diri sendiri tidak pernah mudah bukan? Terlebih jika kebiasaan itu telah kita lakukan bertahun-tahun lamanya dan seolah tak ada yang salah dengan itu.

Hal yang salah tetapi dilakukan berulang kali dan terbiasa, kesalahan itu akan menjadi kebenaran bagi yang melakukan.

 

 

Bukan Dukungan, Malah Bully-an

Masuk ke dalam salah satu SMA Komplek di Surabaya tentu bukan hal yang mudah. Saya yakin hal ini adalah impian bagi para siswa SMP yang telah menyelesaikan ujian nasionalnya. Namun, ternyata masuk ke SMA komplek tak seindah yang dibayangkan. Di tahun kedua, saya mulai belajar mengurangi kata imbuhan khas Surabaya tersebut. Caranya? Dengan hanya berbicara seperlunya saja. Beberapa teman dekat mengetahui kalau saya sedang berusaha menghilangkan kebiasaan yang saya anggap tidak baik itu, dan mereka mendukungnya.

Sisanya? Karena tak mau mengumpat, saya mendapatkan ejekan dari kebanyakan teman sekelas. Mereka bilang saya banci. Mereka menganggap saya takut mengeluarkan kata umpatan yang memang lazim dikatakan dan didegar itu. Mendengar bully-an itu, saya hanya mampu tersenyum kecut. Bagi saya, lebih penting mengubah kebiasaan buruk itu daripada hanya sekadar menuruti ejekan teman-teman.

Ternyata bully-an itu tak hanya datang dari teman sekelas, tetapi juga dari guru saya.

Saya begitu kaget melihat sesosok guru yang harusnya menjadi panutan oleh murid-muridnya serta menjadi teladan yang baik di tempatnya mengajar, turut mem-bully saya karena dia tahu saya tak mau mengumpat.

 

 

Waktu yang Menguji

Setahun berada di kelas dua SMA bagi saya adalah masa yang sangat lama. Sangat lama bagi saya yang menjadi korban school bullying. Namun, setahun itu juga komitmen saya diuji. Kemauan saya untuk menghilangkan kebiasaan yang kurang baik diuji oleh ejekan banyak orang, termasuk seorang guru. Dalam jangka waktu yang terasa lama itu, saya belajar untuk berani melawan arus yang ada. Tak pernah mudah memang, tetapi berharga untuk diperjuangkan.

Efek school bullying itu tidak hanya berdampak secara psikis kepada saya, tetapi sampai mengakibatkan perubahan fisik. Selama setahun itu, saya sering kali menunduk di kelas. Bahkan ketika melewati gerombolan pem-bully, saya juga berjalan dengan menunduk.  Kebiasaan menunduk itu pun terbawa sampai bertahun-tahun berikutnya.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bertanya, “Nic, kenapa badanmu sering menunduk begitu kalau jalan? Ada kelainan tulang belakang?”

Dia memang teman baru saya. Kami baru berkenalan ketika berada di bangku kuliah.

“Ah nggak kok, dulu waktu sekolah temenku pendek-pendek, jadi aku membungkuk aja biar sejajar dengan mereka,” begitulah caraku mengelak.

Karena itu, beberapa tahun belakangan ini, saya punya PR baru: berjalan tegak dan mengurangi membungkuk. Ya, saya kembali menemui sebuah tantangan untuk mengubah kebiasaan. Kebiasaan yang saya dapat belasan tahun yang lalu.

Selalu ada tantangan bagi kita untuk keluar dari zona nyaman negatif yang selama ini dilakukan. Namun percayalah, ada banyak hal positif menunggu ketika kita berhasil melakukannya. Click To Tweet

 

Saat ini, ketika sudah terbiasa berjalan dengan tegak, saya kembali menemui PR baru. Ternyata perut saya sedikit offside. Upss!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here