Kedua,

menutup mata bahwa perjalanan hidup keluarga tak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga biaya.

”Siapa yang akan membiaya pernikahan kalian?” ini juga salah satu pertanyaan wajib saya di kelas bimbingan pernikahan.

Sebagian besar menjawab bahwa pernikahan mereka dibiayai oleh orang tua, baik sebagian atau keseluruhan. Sebagian kecil saja yang menjawab bahwa pernikahan sepenuhnya dibiayai dari hasil keringat sepasang calon suami istri ini. Bagaimana bisa mempersiapkan finansial dengan maksimal, apabila waktu ‘jadian’ dan rencana pernikahan tak jauh jaraknya?

Baiklah, secara finansial pihak lain bisa membantu. Bukan hanya untuk acara pernikahan, tetapi juga untuk kehidupan keluarga sesudah pernikahan. Walau tentu saja bukan hal yang sehat, namun kehadiran keluarga yang menopang biaya rumah tangga yang baru sering kali tak terhindarkan.

Hal yang tidak sehat secara finansial ini membawa masalah dalam relasi. Pihak yang keluarganya memberi donasi besar sering kali merasa superior atas keluarga yang lainnya.  Pria atau wanita yang keluarganya memberi banyak, merasa di atas angin dalam relasi dengan pasangannya. Tak jarang hasilnya adalah ketersinggungan salah satu pihak.

Bila konflik dalam perjalanan pacaran dan pernikahan sudah menyangkut soal finansial, biasanya soal emosi dan harga diri mengemuka. Orang yang terluka bisa menjadi gelap mata dan cinta jadi tak lagi bermakna. Share on X

Tak mengherankan jika orang-orang tertentu tega melakukan apa saja demi ‘menyelamatkan’ harga diri, walau bayarannya adalah nyawa pacar atau pasangannya.

 

 

Semoga peristiwa tragis seperti yang dialami Laura dan Chatarina ini menjadi pelajaran berharga bagi tiap orang yang mempersiapkan pernikahan.

Cinta itu tak pernah tergesa. Ia sabar dalam proses pengenalan pasangan, seperti seorang pembaca menyimak lembar demi lembar buku yang di tangannya.

Cinta yang dewasa itu juga cinta yang membuka mata bahwa hidup ini perlu biaya.

Cintalah yang menyebabkan seorang istri atau suami rela memasak bagi pasangannya. Namun, uanglah yang menyebabkan semua bahan baku masakan itu ada di dapur kita.

 

Jadi, hati-hati dalam berelasi. Karena cinta ternyata benar-benar bisa membunuh, secara harfiah.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here