Sehari setelah foto prewedding, Stefanus membunuh Laura, calon istrinya. Seperti yang ramai diberitakan di portal-portal berita daring, pembunuhan ini dilatarbelakangi rasa tersinggung pelaku karena ucapan Laura soal biaya pernikahan – yang sepenuhnya ditanggung pihak perempuan. Masalah ketidakmampuan ekonomi Stefanus ini ternyata kerap dipercakapkan Laura.

Tersinggung dalam sebuah relasi sebenarnya hal biasa, bukan? Mengapa harus berlanjut dengan pembunuhan?

 

Kasus yang kurang lebih serupa pernah terjadi sebelumnya. Chatarina dibunuh oleh Asworo, pacarnya sendiri, dalam perjalanan untuk melakukan foto prewedding.  Alasannya? Asworo tersinggung ketika ditanya oleh Chatarina tentang kesiapan dana pernikahan.

Jika cinta yang telah mempertemukan sepasang manusia, dan bahkan membuat mereka berani merencanakan pernikahan, mengapa harus berakhir dengan pembunuhan?

 

Sebagai seorang konselor yang kerap kali berbicara untuk mempersiapkan pernikahan atau menolong menyelesaikan masalah rumah tangga, saya menemukan beberapa fenomena menarik yang kian marak.

 

Pertama,

masa kenal calon pasangan yang makin pendek, tetapi makin berani mengambil keputusan untuk menikah.

Dalam kelas bimbingan sebelum pernikahan, saya kerap mengajukan pertanyaan ini, ”Siapa di antara kalian yang sudah saling mengenal setidaknya 5 tahun sebelum ‘jadian’?  Pertanyaan standar ini telah saya tanyakan sejak lebih dari 10 tahun lalu.

Makin lama, makin sedikit pasangan yang mengangkat tangan. Malahan, makin banyak yang baru kenal selama setahun – itu pun tinggal di kota yang berbeda – tetapi berani ‘jadian’ dan lansung segera mengajak menikah.

Jangka waktu yang pendek antara perkenalan, ‘jadian’, dan persiapan pernikahan tampaknya adalah bom waktu dalam relasi.

Waktu yang pendek tak memberikan kesempatan panjang untuk mendalami karakter calon suami atau istri. Apalagi bila dalam jangka waktu pendek itu hubungan juga dibumbui kemesraan yang melampaui batas.

Kenikmatan yang belum waktunya akan mengacaukan masa pergenalan karakter. Pengenalan karakter tidak berjalan maksimal ketika tangan asyik menjelajah tubuh pasangan dan bahkan berlanjut ke peraduan. Click To Tweet

Tak heran apabila konflik sewaktu-waktu bisa meledak bagi pasangan yang masa kenal pribadinya tak berjalan dengan perlahan dan wajar. Ujung dari konflik itu bisa saja penganiayaan dan pembunuhan, bukan?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here