Istri saya termasuk K-lovers, terutama jika menyangkut drama Korea [drakor]. Dia betah menonton drama Korea selama berjam-jam. Dulu dia menonton melalui DVD player, namun sudah beberapa tahun terakhir ini dia beralih menonton melalui smartphone.

Berawal dari drakor berjudul Full House sampai sekarang, entah berapa judul dan berapa episode film sudah yang ditontonnya. Saya sendiri tidak terlalu mengikuti perkembangan film-film Korea; paling-paling saya hanya menonton secara sekilas saja.

Semenjak istri saya mengenal drakor, dia jadi suka dengan segala hal yang berbau Korea – termasuk makanan dan juga bahasanya. Gara-gara kesukaan istri saya terhadap makanan Korea, sudah beberapa kali kami sekeluarga berburu kuliner ala Korea. Untungnya, sejauh ini makanan Korea cocok dengan lidah kami.

Istri saya juga memperhatikan fashion style para pemerannya, termasuk potongan rambut mereka. Anak kami, khususnya yang sulung, sering kali menjadi bahan eskperimen potongan rambut ala Korea ini. Hampir setiap kali potong rambut, rujukannya selalu potongan ala Korea. Sebenarnya, kalau saja rambut kepala saya mencukupi, mungkin juga akan bernasib sama. Untungnya [atau sayangnya], jumlah rambut kepala saya tidak mencukupi untuk model-model seperti itu, kecuali potongan ala tentara seperti di film Descendant of the Sun.

 

Karena terlalu sering menonton film Korea, dia juga acapkali membandingkan perlakuan saya terhadapnya dengan apa yang dilihatnya di film. “Kok ga bisa romantis kayak di film, sih?” inilah komentar yang sering kali keluar dari bibirnya.

Saya cuma bisa tersenyum kecut sambil menjawab,

Don’t compare your love story with others, especially Korean movies. Click To Tweet

Bukankah setiap pasangan mempunyai kisahnya sendiri dan cara mengekpresikan cintanya sendiri pula?

Namun demikian, saya juga berusaha untuk bisa lebih romantis terhadap istri, walaupun tetap dengan gaya saya sendiri.

 

Meniru film Korea, istri juga sering menyapa saya dengan panggilan ‘Oppa’, sebuah panggilan sayang dari seorang wanita kepada kekasih prianya. Sering juga menggunakan ‘Yeobo’ [baca: Yobo], artinya – ehm – honey, sayang. Suami mana yang tidak senang mendengar panggilan tersebut. Biasanya saya akan menjawab sambil senyum “Ya, Bojo, dia pun manyun mendengarnya. Untuk catatan: Bojo adalah Bahasa Jawa yang artinya “suami/istri”.

 

Menikah adalah proses membangun, menumbuhkan, dan mempertahankan cinta. Jatuh cinta itu mungkin mudah, tetapi membangun cinta adalah proses seumur hidup.

Bukankah mempertahankan sering kali jauh lebih sulit daripada merebut?

Sama seperti kutukan di Piala Dunia, setidaknya sudah 3 kali Piala Dunia, sang juara bertahan harus gigit jari dan angkat koper lebih awal. Demikian juga perjalanan cinta antara dua insan dalam sebuah pernikahan.

Diperlukan upaya untuk membangun cinta. Diperlukan usaha untuk menumbuhkannya. Bahkan, diperlukan pengorbanan untuk memertahankannya. Click To Tweet

Cara-cara sederhana ini mungkin dapat menginspirasi Anda untuk mempertahankan cinta Anda kepada pasangan:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here