Kalimat ambigu lainnya. Martha berusaha keras menggunakan logikanya, tetapi jawaban John tidak juga memberi kepastian.

“Mungkin aja, ‘kan? Hampir dua bulan kita jarang ketemu, kontak juga minim banget. Ya … mungkin kamu butuh companion. Aku nggak nyalahin kamu, kok, John. Aku tahu–“

“Kamu tahu apa?” sela John cepat, tangannya sudah terlipat di dada. “Kutebak habis ini kamu mau bilang bisa maklum kalo aku ada cewek lain, karena kamu yang salah udah pergi. Terus kamu gak masalah kalo aku jalan sama siapapun itu, kamu rela aku sama orang lain. Iya?”

Tersudut oleh perkataan John yang seperti membaca pikirannya, Martha hanya mengangguk lemah.

“Kamu ga mau perjuangin aku? Fight buat kita?” desak John, pandangannya seperti menyelisik pikiran Martha.

Sekilas Martha melirik pada tongkat persneling, menghela napas, lalu menatap John kembali, “Aku tahu ini akibat pilihan egoisku, John. Jadi … ya … aku harus tanggung konsekuensinya. Aku ga boleh egois dengan paksa kamu.”

John meraup wajahnya, ada rasa jengkel yang tergambar di sana.

Martha memberanikan diri bertanya, “Jadi bener, kamu ada cewek lain?”

Tak sabar, John segera bertanya kembali, “Kamu udah tahu arti lagu itu?”

Martha kembali mengangguk lemah.

“Bener sudah paham artinya?” desak John.

“Iya. Aku sudah tanya Kuku,” jawab Martha.

“Terus, masih bisa bikin kesimpulan aku punya cewek lain?”

Tertunduk tak tahu harus menjawab apa, Martha memainkan jemarinya.

“Habis sidang skripsi kenapa bikin kesimpulannya bisa begitu?” berondongan respons John masih belum berhenti.

“Ya ‘kan kamu bilang bikin kesalahan, datanya jadi ga sinkron. Aku bingung,” jawab Martha lirih.

Beberapa detik kemudian, bukannya melanjutkan dengan kejengkelan, John malah tertawa lepas. Ia mengusap air mata yang muncul di sudut matanya, akibat terbahak tanpa henti selama beberapa saat.

“Kok malah ketawa?” ujar Martha sebal.

“Ampun deh, pacarku kenapa jadi lemot kalo soal beginian?”

John menggaruk pelipisnya dan mengembuskan napas keras untuk menghentikan tawa. Ia kemudian menatap Martha, meraih satu tangannya dan mengusapnya lembut.

Babe, soal kesalahan itu, emang ada hubungannya sama cewek … yang ini,” jelas John sembari mencubit hidung Martha, “bukan cewek yang lain.”

Martha masih diliputi rasa ingin tahu, tetapi pipinya tetap memerah akibat ulah John barusan.

“Aku hampir gila nahan diri untuk ga hubungi kamu. Tapi aku juga marah, kamu seenaknya pergi, hampir sebulan ga kasih kabar. Pas ketemu, kamu juga ga mau ngomong sama aku. Balik ke Surabaya, ga ada kabar juga. Gimana ga gondok digituin?”

Martha menunduk dan berbisik, “Maaf.”

Tangan John menemukan dagu Martha dan mengangkatnya untuk kembali menatapnya, “Aku yang maaf, udah egois. Harusnya aku kasih kamu support, harusnya aku ada waktu kamu butuh.”

Mata Martha buram, air matanya menetes dan mengalir turun di pipinya.

John menarik tangan Martha yang ada di genggamannya, mengecupnya perlahan tanpa melepaskan tautan pandang mereka.

“Aku sayang kamu, Babe. Cuma kamu yang bisa bikin hidupku yang suram jadi berwarna. Kamu yang dengan berani dan tulus ajak aku untuk bertumbuh.”

Jemari John mengusap pipi Martha yang basah, menyingkirkan jejak air mata yang ada di sana. Martha masih terisak, berusaha untuk mengendalikan hatinya yang bergejolak.

“Udah tahu arti lagunya, ‘kan? I’m so lucky, punya kamu yang bisa dan mau ngerti diriku. Kamu yang ajarin aku menghargai hidup, kamu yang temani aku sama-sama menemukan visi untuk masa depan. Aku cuma mau kamu.”

Genggaman tangan John makin erat. Sekali lagi Martha merasakan kehangatan merasuki hatinya.

Pret!” sahut Martha tajam di sela-sela air matanya, berusaha keras untuk mengatasi jantungnya yang berdebar makin cepat.

Satu sudut bibir John terangkat, ibu jarinya membelai pipi Martha yang memerah. “Si Encim Teresa rela kehilangan kekuatan, kalo aku ga mau. Aku masih mau jalan bareng kamu. Cuma kamu, Babe.”

Mbel (Gombal)!” Susah payah Martha menahan senyum dan memasang wajah judes. Pertahanannya bisa roboh kalau John terus melancarkan serangan seperti ini.

“Yang pasti bukan cuma aku yang suka gombal. Ada tuh yang bilang ‘tapi masih lebih ganteng pacarku,’” goda John dengan suara cempreng, berusaha menirukan suara Martha.

“Loh, kok …?” tanya Martha, merasa kalimat itu pernah ia dengar dan tak butuh lama baginya untuk ingat. Ia memutar bola matanya dan mencebik, “Pasti tahu dari Koko ya?”

John menggeleng sambil tersenyum jail.

“Jadi …,” Martha masih penasaran, alisnya berkerut, ia menduga, “kamu kenal … Mas Bayu?”

Kali ini dengan yakin John mengangguk, “Dia kakak tingkatku pas kuliah. Andre juga kenal.”

Martha tahu Bayu adalah alumni universitas tempatnya berkuliah, tapi tak pernah terlintas bahwa Bayu pernah berada di fakultas yang sama dengan John, terlebih saling mengenal.

“Jadi, kamu masih mau punya pacar yang ganteng kayak gini, ‘kan?”

Seulas senyum tak bisa lagi Martha sembunyikan. Ia memuaskan rindu dengan memandangi John lekat.

Laki-laki ini sudah bertahan bersamanya, bersama Martha yang ambisius dan sok kuat, bersama Martha yang rapuh dan egois. Laki-laki ini selalu melindungi dan mendukungnya. Ia tak ragu berjuang memenangkan hati Martha, tetapi juga telah menyerahkan hatinya untuk Martha, sepenuhnya.

“Kamu serius ga ada cewek lain, ‘kan?” balas Martha pura-pura jutek pada John.

“Astaga! Ga ada, Babe, beneran! Lagian, aku bisa masuk DPO-nya Ko Ming kalo berani deketin cewek lain.”

1 COMMENT


  1. Warning: Attempt to read property "ID" on bool in /home/ributruk/public_html/wp-content/plugins/podamibe-custom-user-gravatar/pod-custom-user-gravatar.php on line 179
    Gaby

    Bagus banget ceritanyaa 🤩 lucu, seru, ada rahasia-rahasianya. Menghibur sekali 🥰

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here