Lanny mundur sejenak, mengamati keadaan sekeliling, memastikan ia tak salah masuk kamar atau salah masuk rumah. Pikirannya memberi konfirmasi, ini benar rumah mertuanya, ini benar kamar yang ditempatinya sejak ia menikah.

“Kamu siapa?” tanyanya tegas pada perempuan yang ada di kamarnya.

Tidak menjawab, perempuan itu malah duduk di atas tempat tidur dan mengabaikan Lanny.

Rambut panjangnya yang lurus dan hitam legam sangat kontras dibandingkan rambut sebahu Lanny yang ikal. Matanya besar, berbeda dengan mata Lanny yang hanya segaris dan terbingkai kacamata. Bibirnya bergincu merah, membuatnya tampak segar dan amat belia. Berbanding terbalik dengan wajah Lanny yang terlihat lebih tua, kuyu tanpa polesan.

Lanny meradang. Rasanya ia ingin menyeret perempuan itu, jauh dari ranjang pengantinnya, keluar dari sarang cintanya.

Pemikirannya disela oleh pintu kamar mandi yang terbuka. Suaminya tak kelihatan terkejut melihat ada dua perempuan di kamar itu. Ia bahkan melenggang santai sembari menggosok rambut basahnya dengan handuk.

“Dia siapa?” tuntut Lanny pada laki-laki itu.

“Ga masalah, ‘kan?” jawab lelaki itu.

“Maksudnya?”

Belum sempat lelaki itu menjawab, perempuan itu berdiri dan memeluk lengan suami Lanny. “Ayo, aku udah lapar, katanya mau ajak makan kepiting,” rengeknya manja.

Lanny mendelik tak percaya melihat adegan mesra di hadapannya.

“Dia siapa?” tanya Lanny lagi dengan suara yang lebih keras.

Suaminya menepuk lengan perempuan itu lembut lalu berkata, “Iya, kamu ganti baju dulu. Aku bicara sama dia.” Menanti perempuan itu beranjak ke kamar mandi, lelaki tegap itu berpaling pada Lanny dan menjawab, “Kamu mau ikut makan?”

Lanny meraup wajahnya kasar, putus asa mulai merangkak masuk dalam hatinya.

“Tolong jelasin ini maksudnya apa?” pintanya.

“Dia hamil anakku.”

Gempa bumi melanda dunia Lanny, seketika tanah tempatnya berpijak seperti berguncang dan luruh.

“Waktu itu … waktu aku cerita soal Papa dan perempuan itu,” Lanny menunjuk ke arah luar rumah, “kamu bilang enggak apa, kamu bilang akan temani aku lewati ini.” Bendungan air mata Lanny sudah jebol. Ia berpegangan pada kusen pintu erat, kakinya sudah bergetar hebat.

“Iya, ‘kan aku bilang gak apa. Aku ga keberatan papamu begitu. Aku boleh begitu juga, ‘kan?” jawab lelaki itu sambil menyisir rambutnya di depan cermin. “Papamu punya istri muda, situasi begini bukan hal baru buat kamu.”

Lanny berusaha mengumpulkan kekuatan dan kata-kata, tetapi ia terpaku melihat perempuan itu keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian yang identik dengan miliknya. Semerbak minyak wangi memenuhi kamar itu. Minyak wangi miliknya di tubuh perempuan lain.

Di luar matahari bersinar terik, tapi di hati Martha hujan mulai turun dan menjadi makin deras. Guntur dan kilat yang menyertai membuat Martha menahan napasnya.

Ada kekaguman yang sekarang tumbuh di hati Martha. Lanny yang sepertinya hidup tanpa beban dan sibuk mengurusi orang lain ternyata menyimpan beban yang begitu besar. Merasakan pengkhianatan dari satu pria sudah cukup berat, tetapi kukunya harus menanggung pengkhianatan oleh dua pria yang ia cintai.

Lanny hanya terdiam, sesekali mengusap wajahnya dengan tisu.

Martha memberanikan diri bertanya, dengan penuh kehati-hatian, “Kuku akhirnya … pisah?”

Lanny sebenarnya tak perlu menjawab pertanyaan Martha. Namun, seakan ingin memberi jawaban pada keponakannya, ia menatap pada Lingga penuh isyarat.

Lingga menepuk tangan Lanny lalu menjawab, “Sebelum kejadian itu, mertua Kuku sempat menuntut cucu, sudah beberapa tahun menikah Kuku belum juga hamil. Adanya perempuan itu bikin situasi Kuku terjepit.”

Melihat kukunya yang begitu rapuh, Martha makin tak mampu berkata-kata. Kebahagiaan tentu akan berlipat ganda dengan hadirnya anak sebagai pribadi ketiga dalam pernikahan. Namun ketika pribadi ketiga itu adalah perempuan lain berbadan dua, sementara tak ada bakal hidup dalam rahim, pernikahan akan menjadi neraka siksaan.

“Kuku … lebih baik hidup damai sendirian … daripada hidup ramai di sana tetapi kesepian,” imbuh Lanny terbata-bata.

Suara beberapa kendaraan yang lewat di depan rumah mengisi kekosongan suara di antara mereka. Beberapa kali Martha menangkap gerakan Lingga yang menunjukkan dukungan bagi Lanny.

Martha menatap ragu pada Lanny untuk bertanya, “Orang itu … enggak pernah cari Kuku?”

Lanny menggeleng. Seakan tahu apa yang muncul di benak Martha, Lanny berkata, “Kuku sudah salah pilih. Enggak menyangka dia laki-laki yang mau senang sendiri, ga mau susah bersama. Apalagi tangan sudah mulai main, enggak perlu dipertahankan.”

“Yeye tahu Kuku … dibegituin?” Martha tak mampu mencari kata-kata yang tepat menggambarkan situasi yang dialami Lanny.

Lanny menarik napas dalam dan menghelanya perlahan, “Yeye tahu, tapi tetap di rumah sana, enggak ada di sini. Yang ada waktu itu … papa lu.” Ia kemudian menatap Lingga yang masih setia berada di sampingnya, “Untung waktu itu ada lu sama Kohde, Sao. Ga tahu aku jadi gimana kalo ga ada nǐmen (kalian).”

“Tapi, akhirnya Yeye pulang, ‘kan?”

Ingatan Martha memunculkan kalimat yang pernah Bayu ucapkan.

“Aku masih enam tahun waktu Papa pergi.”

Apakah keadaan kukunya menjadi alasan kepergian Yeye? Apakah akhirnya Lanny mendapatkan papanya sementara Bayu akhirnya kehilangan sosok itu?

“Sejak itu … nggak pernah kembali.”

Pasti ini alasannya, ‘kan? Tidak mungkin ada alasan lain.

Pikiran dan perasaan Martha seperti diaduk-aduk, terlalu banyak hal yang harus diproses, padahal matahari belum naik tinggi. Perutnya bahkan terasa penuh, sekalipun belum ada makanan yang masuk.

“Yeye pulang, setelah papamu paksa pulang.”

Martha menelan ludah, masih mencari jawaban, menatap mama dan kukunya bergantian.

“Papa … paksa Yeye?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here