John tahu sejak tadi Martha berusaha menghindar. Gara-gara itu, semua skenario yang sempat ia pikir sepanjang perjalanan jadi menguap.

John membayangkan Martha akan berlari memeluknya ketika tatapan mereka bersirobok, tetapi ia hanya diam mematung. John bahkan tak bisa mengenali perasaan apa yang ada di balik tatapan matanya.

Martha yang biasanya tegas dan ketus, tiba-tiba jadi super diam. Dia bahkan tidak memperhatikan jalan ketika akan menyeberang. Ceroboh sekali, tidak seperti Martha yang biasanya sangat hati-hati.

Ia hanya mengenakan kaus lengan pendek tanpa jaket. Katakanlah memang ia terburu-buru, tapi apa sulitnya bagi Martha untuk membuka mulut dan meminjam jaket yang John kenakan sekarang?

Kalau ia tak memecah es tak kasat mata yang ada di antara mereka, sampai mereka berpisah pun keadaan tidak akan berubah. Lagi pula John sudah tak bisa menahan rindunya.

Rambut halus itu, seperti magnet bagi jarinya. Martha tetap tak membalas tatapannya.

“Kamu kurusan, Babe?” Ia menyibak rambut yang menutupi wajah Martha ke belakang telinga.

Masih diam.

“Pasti karena kangen aku juga, ya?”

Senyum mulai muncul di wajah Martha.

“Ngomong, dong. Aku datang masak dikacangin?”

Martha tiba-tiba menoleh ke arahnya. Ia membuka mulut, tapi kemudian menutupnya kembali; seperti bingung bagaimana harus menjawab. Namun, maniknya tak ragu membalas tatapan John.

Senyum John makin lebar. Akhirnya Martha memandangnya. Ia tak butuh mendengar suara Martha, dahaga dalam hatinya sudah terpuaskan.

Martha sibuk dengan semangkuk angsle di hadapannya. Di sampingnya, Bayu dan Ming sedang asyik membicarakan perkembangan toko mereka. Di sebelah kanan mereka, Lanny, Lingga, Santi, dan John asyik bercengkrama sambil menikmati makanan yang mereka pesan. Entah apa yang mereka percakapkan.

“Jadi, minggu depan Koko jemput, ya?” Ming bertanya pada Martha.

“Minggu depan kamu mau balik?” Bayu ikut bertanya.

“Iya, mau beresin skripsi.” Martha menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari kuah santan di mangkuknya.

“Kamu sama John gimana?” Ming bertanya lagi.

“Nggak tahu, Ko.”

“Kamu belum ngomong sama John?”

Martha menggeleng, tangannya bergerak selaras dengan kepalanya, mengaduk-aduk angsle yang sudah dingin itu.

“Kenapa?”

“Nggak tahu, Ko.”

“Duh, sekali lagi kamu bilang ‘nggak tahu’, Koko–”

“Kasih piring cantik?” Martha memotong Ming cepat.

“Koko geret pulang sekarang!”

Martha mencebik. Ming dan Bayu tertawa.

“Pacarmu bener ganteng loh, Ta,” goda Bayu.

Martha hanya melirik sinis pada Bayu dan kokonya. Bisa-bisanya dua lelaki ini bersekongkol melawan dirinya. Rasanya dia sedikit menyesal mengajak Bayu ikut.

“Kamu nggak mau tanya kenapa John bisa ikut?” Ming beringsut makin mendekat ke Martha. Dia ingin Martha memperhatikan apa yang akan dia katakan.

“Siang tadi Kuku tiba-tiba ajak kita naik, ga ada rencana sebelumnya. Koko cepet-cepet balik dari toko. Pas Koko sampe rumah, Kuku udah ada, semua sudah siap. Koko pikir langsung berangkat. Eh, Mama usul ajak John. Pas Koko telepon, kayaknya John lagi ketemu klien, tapi dia bilang mau ikut.”

“Oh.”

“Kok, cuma ‘oh’?” Ming mengerling pada Martha.

“’Oh’-nya sejuta makna ya?” timpal Bayu.

“Oooh, pantesan dia masih pake kemeja.” Mata Martha melirik ke arah John dan Bayu.

“Makin ganteng kalo pake kemeja ya, Ta?” Bayu terus menggoda Martha yang makin salah tingkah.

“John perhatian, loh.”

Martha mengernyit mendengar pernyataan Ming.

“Tadi dia yang menawarkan diri, mau setir. Koko perhatiin, kalo lewat jalan rusak, dia ati-ati pol (sangat berhati-hati). Padahal Koko tebak dia pasti pengen cepet-cepet nyampe, tapi masih ingat di belakang ada ibu hamil dan camer.”

Martha menyikut pinggang Ming. Bayu berdeham geli melihat kelakuan Martha.

“Loh, bener, kok. Koko ndak mbujuk (tidak bohong).”

Ming melihat adiknya makin menekuni mangkuk angsle di hadapannya.

“Aku …,” Martha tertunduk, “takut, Ko.”

“Takut apa?”

“Kenapa?”

Ming dan Bayu bertanya hampir bersamaan.

“Takut dia ga mau lanjut.”

“Hah? Itu ada orangnya segede gitu belum jelas? Pake pinjemin jaket segala, tuh.” Ming mengangkat alis, seperti ingin menunjuk pada jaket yang dikenakan Martha sekarang.

“Ya, nggak jaminan juga, Ko. Bisa tho, cuma sekadar basa-basi.”

“Sejak kapan kamu suka berasumsi gini? Tanya sendiri sana. Biar jelas.”

Martha melihat ke arah John yang masih asyik ngobrol dengan mama dan kukunya.

“Atau perlu aku yang bantu tanya?” tanya Bayu sambil melirik pada John.

Sendok di tangan Martha terjatuh. Mukanya memerah. Mulutnya mencebik.

Ia menatap sebal kepada Ming dan Bayu yang kemudian asyik melanjutkan obrolan mereka, tanpa dirinya. Pandangannya beralih pada sisi kanannya dan menemukan John yang sepertinya bercerita dengan semangat sedangkan Lingga, Lanny, dan Santi merespons dengan tawa, entah karena apa.

Kejadian petang ini tiba-tiba direka ulang dalam pikiran Martha. Mamanya yang bersikap ramah kepada Bayu. Kukunya yang salah tingkah dan menghindari Bayu. Ming menyapa Bayu seperti sudah lama kenal.

Otak detektif Martha bekerja lagi. Ia mendeduksi bahwa mereka sudah mengetahui tentang Bayu sebenar-benarnya. Pertanyaan itu pun sudah ia dapat jawabannya. Sekarang muncul pertanyaan besar lain yang memenuhi benaknya.

Kenapa mereka diam aja? Kenapa ga bilang dia bukan anak Papa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here