Ketiga, seperti yang saya nyatakan di awal tulisan, alam bisa berwajah ganda: indah mempesona atau menimbulkan musibah yang membuat orang merana
Intinya, kita perlu memelihara alam ciptaan Tuhan ini dengan baik. Ada kecenderungan di antara kita yang lebih mudah menerima dan membeli ketimbang menjaga dan merawat. Sebelum pemakaian handphone meluas, seberapa banyak bilik telepon umum dirusak, bahkan gagang teleponnya pun hilang. Berita yang pernah saya baca, ternyata ada seorang yang sengaja memotong gagang telepon itu untuk koleksi. Gubrak!
Sebagai pecinta alam, setiap kali melakukan wisata domestik maupun mengunjungi sebuah negara, tempat favorit saya adalah Botanical Garden atau National Park. Di salah satu ‘kebun’ dan ‘taman’ raksasa itu, saya menemukan tulisan yang merupakan kutipan peribahasa kuno suku Indian yang berbunyi demikian: “When the last tree has been cut down, the last fish caught, the last river poisoned, only then will we realize that one cannot eat money.”
Tindakan membuang sampah sembarangan—apalagi sampah plastik yang butuh waktu sangat lama untuk terurai—dan penebangan pohon (khususnya, pelambalakan liar) secara serampangan dan penembakan satwa secara pencurian ikan yang gila-gilaan, membuat alam kehilangan keseimbangan dan alat penyangganya. Saya begitu miris melihat ratusan singa laut yang naik ke tebing tinggi hanya untuk bunuh diri dengan menerjunkan tubuhnya ke cadas di bawahnya karena tingkat hunian mereka semakin habis dikikis pemanasan global. Ketika saya berada di ski resort dan merasakan udara yang tidak terlalu dingin, seorang petugas berkata, “Gara-gara pemanasan global, anomali cuaca ini sering terjadi.” Siapa yang bertanggung jawab atas semua kerusakan alami ini? Siapa lagi kalau bukan makhluk yang menganggap dirinya ciptaan yang utama?
Dari peristiwa hilangnya Nanggala, mari kita kembali mengambil tekad dan tindakan nyata untuk menjadi penjaga bumi yang setia. Jangan biarkan lagi Ibu Pertiwi menangis karena kita hanya disibukkan oleh perselisihan yang terus-menerus karena masalah SARA.
- Xavier Quentin Pranata, berdomisili di instagram @xavier_qp.






